Kimyatusy- Sya'adah - Mengenal Dunia


MENGENAL DUNIA INI
Dunia ini adalah ibarat pasar yang dilewati oleh pengembara dalam perjalanannya menuju ke suatu tempat. Di sinilah pengembara itu mengumpulkan bekal untuk perjalanannya. Pendeknya di sinilah manusia itu dengan menggunakan indera jasmaninya, memperolehi sedikit sebanyak pengetahuan tentang kerja-kerja Alloh, dan melalui pengetahuan itu untuk Mengenal Alloh. Pandangan terhadap Alloh inilah yang menentukan kebahagiaan dan keselamatan di hari kemudian, karena untuk mendapatkan Ilmu Pengetahuan inilah, maka manusia turun ke dunia dan tanah ini. Selagi inderanya ada bersama dengannya, orang itu dikatakan berada "dalam dunia ini". Apabila indera ini meninggalkan jasad dan hanya sifat-sifatnya yang perlu saja yang tertinggal. maka orang itu dikatakan telah kembali "ke akhirat".

Semasa manusia itu berada dalam dunia ini, dua hal perlu baginya.

Pertama , melindungi dan mengasuh(memelihara) Ruhnya dan

Keduanya , memelihara dan menyelenggara tubuhnya.

Makanan Ruh itu seperti yang tersebut sebelum ini, ialah Mengenal dan Cinta kepada Alloh.

Jika cinta itu ditumpukan sepenuhnya kepada " ghair Alloh" (selain Alloh), maka binasalah Ruh itu. Tubuh itu hanya ibarat binatang tunggangan bagi Ruh. Tubuh itu akan hancur tetapi Ruh tetap hidup. Ruh itu sepatutnya memelihara tubuh. Ibarat orang yang hendak mengerjakan Haji ke Mekah, ia perlu memelihara untanya, tetapi jika ia menghabiskan masa dengan memberi makan dan menghias untanya saja, maka kafilah akan meninggalkan ia di belakang dan binasalah ia di padang pasir.

Keperluan tubuh manusia itu terbagi kepada tiga saja yaitu makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Tetapi keinginan tubuh yang ada pada seseorang untuk mendapatkan tiga hal itu cenderung melawan akal dan melebihkan dari tiga hal itu. Oleh itu, perlulah kemauan itu disekat dan dibatasi dengan undang-undang syariat yang dibawa oleh Rasul-Rasul.

Berkenaan dunia ini pula, di mana kita tinggal , terbagi kepada tiga - yaitu binatang, tumbuh-tumbuhan dan galian (logam). Hasil ketiga hal ini sentiasa diperlukan oleh manusia dan melahirkan tiga pekerjaan yang utama pada manusia yaitu :

•Kerja Menenun,
•Kerja Membina dan
•Kerja-kerja Logam.

Ini pula terbagi kepada beberapa cabang lagi seperti Tukang Jahit, Tukang Batu, Tukang Besi dan lain-lain lagi. Tidak ada yang bebas sendiri, perlu saling berkaitan. Maka timbullah perhubungan dan perkaitan perdagangan dan perniagaan.

Di sini timbul pula keadaan-keadaan yang menerbitkan Hasad, Dengki, Tamak, loba dan berbagai-bagai penyakit Jiwa(Ruh). Dengan itu timbul pula pertengkaran dan persengketaan serta keperluaan untuk berpolitik, berkerajaan dan pengetahuan tentang undang-undang.

Oleh yang demikian, pekerjaan dan perdagangan di dunia ini makin bertambah rumit dan kusut dan kompleks. Ini karena manusia telah lupa bahwa keperluan mereka yang utama adalah hanya tiga hal saja yaitu pakaian, makanan dan tempat tinggal.

Diri ini hanya bertujuan untuk menjadikan tubuh itu layak bagi tunggangan Ruh dalam perjalanan menuju ke akhirat. Mereka telah sama terlena seperti orang yang pergi ke Mekah, mereka telah lupa tujuan perjalanan dan dirinya sendiri, lalu menghabiskan masa memberi makan dan menghias untanya. Manusia pasti terpesona dan terpikat oleh dunia kecuali ia berhati-hati benar supaya tidak tergoda. Nabi ada bersabda mengatakan bahwa dunia ini ibarat Tukang Sihir yang lebih pintar dari Harut dan Marut.

Dunia ini menipu kita dengan cara sebagai berikut :

Pertama, ia berpura-pura kekal bersama kita padahal sebenarnya ia sentiasa berlalu saat demi saat sambil melambaikan tangan mengatakan Selamat Tinggal kepada kita, seperti bayang-bayang yang nampaknya tetap tetapi sebenarnya bergerak.

Kedua, Dunia ini berpusing seperti seperti Ahli Sihir yang menarik tetapi jahat. Ia berpura-pura Cinta kepada kita, suka kepada kita, tetapi kemudian ia pergi kepada musuh dan meninggalkan kita manusia kesedihan dan putus asa. Nabi Isa Alaihissalam melihat dunia ini seperti bentuk nenek berkebaya tua yang buruk. Beliau bertanya kepada dunia itu berapakah suami yang ia ada. Dunia itu menjawab suaminya tidak terkira banyaknya. Beliau bertanya lagi adakah suaminya itu telah mati atau telah diceraikan. Katanya semua mereka itu telah dibunuhnya.

Nabi Isa Alaihissalam berkata :

"Aku heran kenapa manusia bodoh, telah melihat bagaimana anda melakukan kekejaman itu namun masih juga mereka suka dan cinta kepada anda".

Nenek berkebayan yang jahat ini memakai pakaian yang indah-indah dan menutup mukanya. Kemudian ia pergi menggoda manusia. Banyaklah manusia yang tergoda dan tertipu dan dibinasakannya. Nabi SAW. pernah bersabda bahwa di hari Qiyamat kelak, dunia ini akan berupa dengan bentuk Ahli Sihir, matanya hijau dan giginya menonjol keluar. Orang yang melihatnya akan berkata :

"Kasihanilah kami! Siapakah ini?"

Malaikat akan menjawab;

"Inilah dunia yang kamu perbuat dan pertengkarkan, yang kamu bunuh-membunuh dan sembelih-menyembelih antara satu sama lain".

Kemudian dia akan dilemparkan ke Neraka dan di situlah ia akan menjerit :

Oh Tuhan!!! Di manakah mereka yang mencintai aku dahulu".

Kemudian Alloh perintahkan mereka itu dilemparkan juga ke dalam Neraka itu.

Barangsiapa bertafakur dengan serius bahwa dahulunya dunia ini tidak wujud dan di masa akan datang ia akan hilang sirna, maka nampaklah ia bahwa dunia ini ibarat perjalanan di mana peringkat-peringkatnya berupa tahun, bulan dan batunya dengan harinya, dan langkahnya dengan saat. Tidak dapat hendak diceritakan bagaimana ruginya mereka yang menganggap dunia ini tempat kediamannya yang kekal dan membuat rancangan untuk sepuluh tahun yang akan datang pada mungkin ia akan berada dalam kubur dalam tempo sepuluh hari lagi. Siapa tahu ??.

Siapa yang meninggalkan dirinya dalam lautan keindahan dunia fana ini, di masa matinya akan jadi seperti orang yang menyumbatkan mulut dan perutnya dengan makanan dan kemudian ia memuntahkan semula. Kelazatannya hilang sirna. Yang tertinggal hanyalah dan aib.

Makin banyak harta-benda, wang, rumah dan taman yang indah dimilikinya, makin pedih dan payahlah ia hendak meninggalkan semua itu. Kepedihan dan kesusahan ini akan dibawa hingga selepas mati karena jiwa yang sudah biasa dengan nafsu dunia itu akan menjadi sombong juga selepas mati dan di Akhirat kelak akan merasakan kesusahan dan kepedihan karena kemauan dan keinginan yang tidak merasa puas.

Satu daripada ciri atau sifat hal keduniaan ini ialah pada mulanya nampak seperti hal kecil saja, tetapi tiap-tiap hal yang nampak "kecil" ini bercabang hingga tidak terhingga lagi banyaknya, hingga ia menelan dan membolot seluruh masa dan tenaga manusia itu.

Nabi Isa Alaihissalam pernah berkata :

"Orang yang cinta kepada dunia itu ibarat orang yang meminum air laut, makin diminum makin haus hingga akhirnya ia binasa, namun dahaga tidak juga hilang".

Nabi SAW. pernah bersabda;

"Tidaklah kamu bercampur dengan keduniaan itu melainkan kamu dikotori sebagaimana orang yang masuk ke air, pasti akan basah".

Dunia ini ibarat meja yang di atasnya ada hidangan untuk tamu yang datang silih berganti. Di atasnya ada pinggan mangkuk emas dan perak, penuh dengan makanan yang sedap-sedap, dan bau-bauan yang harum mewangi. Tetapi seorang yang bijak akan makan seperlunya, menghirup wangi-wangian itu, mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah, dan kemudian pergi.

Tetapi tamu yang bodoh, sebaliknya hendak membawa pulang pinggang mangkuk emas dan perak itu, tetapi benda-benda itu dirampas balik darinya. Ia suruh pergi. Maka malu dan hina serta putus asa saja yang diperolehnya.

Sekarang kita tutup penerangan kita tentang tipu muslihat dunia ini dengan ibarat yang berikut. Katalah sebuah kapal tiba di sebuah pulau yang penuh sesak dengan penumpang. Nakhoda kapal itu memberitahu penumpang-penumpang kapal itu ia hendak singgah bebarapa jam saja di pulau itu, dan mereka boleh naik ke pantai untuk sementara waktu tetapi jangan terlampau lama. Maka turunlah penumpang-penumpang itu ke pantai dan masing-masing pergi ke sana dan kemari sesuka hatinya.

Orang yang bijak di antara mereka itu akan kembali ke kapal dalam masa yang singkat saja dan apabila melihat kapal itu lapang mereka pun mencari tempat yang nyaman untuk duduk.

Kumpulan penumpang yang kedua pula berjalan ke sana ke mari lama sedikit sambil menikmati keindahan pokok-pokok dan bunga-bunga dan mendengar burung-burung menyanyi. Setelah kembali ke kapal, mereka mendapatkan tempat-tempat yang baik di kapal itu telah diduduki dan terpaksalah mereka berpuas hati dengan tempat yang kurang nyaman itu.

Kumpulan yang ketiga berjalan dan bersiar makin jauh di pulau itu dan mereka membawa batu-batu yang beraneka warna untuk dibawa ke kapal. karena mereka lambat kembali ke kapal itu, terpaksalah mereka duduk di tempat-tempat yang kurang baik di dalam perut kapal itu. Mereka dapati batu yang berkilauan yang mereka bawa itu telah hilang kilauan dan warna-warninya.

Kemudian yang terakhir pula telah merayau-rayau terlalu jauh ke tengah pulau itu hingga tidak sadar masa untuk belayar telah hampir tiba dan tidak pula mendengar panggilan nakhoda itu karena mereka terlampau jauh. Maka terpaksalah kapal itu belayar lagi tanpa mereka. Maka menyesalah mereka dengan putus asa dan dukacita dan akhirnya binasalah mereka karena dahaga dan kepalaran ataupun dimakan oleh binatang-binatang buas.

Kumpulan pertama itu ibarat orang-orang yang beriman yang menjauhkan diri dari pengaruh keduniaan; dan kumpulan yang terakhir ialah ibarat orang-orang kafir yang hanya memandang dunia ini saja dan lupa akhirat. Dua golongan yang di antara itu adalah mereka yang memelihara Imannya mereka tetapi mengikut kata hati dengan mengurangi hal-hal yang tidak berfaedah di dunia ini.

Meskipun kita telah bercakap banyak mengecam dunia ini, tetapi hendaklah diingat bahwa ada juga hal-hal di dunia ini yang bukan terdiri dari benda keduniaan, seperti Ilmu Pengetahuan dan Amal Sholeh. Manusia akan membawa bersamanya apa-apa Ilmu yang ia punyai masuk ke Alam Akhirat.

Meskipun amal sholehnya telah berlalu, namun kesannya tetap tinggal dalam wataknya atau keperibadiannya khususnya dalam hal peribadatan, yang menghasilkan Cinta kepada Alloh dan mengenangNya sentiasa. Inilah sebagian dari "hal-hal yang baik" yang tersebut di dalam Al-Qur'an sebagai berikut :

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (Hujurat:7)

Lain-lain hal baik dalam dunia ini, seperti nikah, makanan, pakaian dan sebagainya digunakan oleh orang-orang yang bijaksana menurut kadarnya kerena ini semua menolongnya untuk mencapai ke Alam akhirat. Apa saja yang menarik seluruh perhatian hati yang menyebabkan tertambat ke dunia ini dan lupa ke Akihrat, adalah sebenarnya jahat semata-mata. Ini diibaratkan oleh Nabi SAW demikian;

"Dunia ini celaka dan semua hal dalam dunia ini celaka, kecuali Zikir Alloh (mengenang Alloh) dan apa-apa saja yang membantu (untuk mengingati Alloh) ”

Firman Alloh SWT dalam Al-Quran :

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (Zikir). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah (Zikir) hati menjadi tenteram.(AR RAD:38)

Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya'adah - KIMIA KEBAHAGIAAN - Karya : Imam Al-Ghazali

KEMBALI MENGENAL AKHIRAT

Kimyatusy- Sya'adah - Anak Kunci


ANAK KUNCI UNTUK MENGENAL ALLOH
Mengenal diri itu adalah "Anak Kunci" untuk Mengenal Alloh.

Hadis ada mengatakan :
MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU
(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Alloh)

Firman Alloh Taala : Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS. 41:53)

Tidak ada hal yang melebihi diri sendiri. Jika anda tidak kenal diri sendiri, bagaimana anda hendak tahu hal-hal yang lain? Yang dimaksudkan dengan Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda, tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota anda itu. karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita mengenal Alloh. Dan bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda memukul dan sebagainya. Jika anda bermaksud demikian, maka binatang itu sama juga dengan anda. Yang dimaksudkan sebenarnya mengenal diri itu ialah:

Apakah yang ada dalam diri anda itu?

Dari mana anda datang? Kemana anda pergi? Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini? Apakah sebenarnya bagian dan apakah sebenarnya derita?

Sebagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak kebinatangan. Sebagian pula bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat. Anda hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada, dan yang tidak perlu. Jika anda tidak tahu, maka tidaklah anda tahu di mana letaknya kebahagiaan anda itu.

Kerja binatang ialah makan, tidur dan berkelahi. Jika anda hendak jadi binatang, buatlah itu saja. Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan manusia, pandai menipu dan berpura-pura. Kalau anda hendak menurut mereka itu, lakukan sebagaimana kerja-kerja mereka itu. Malaikat sibuk dengan memikir dan memandang Keindahan Ilahi. Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan.

Jika anda ingin bersifat dengan sifat KeMalaikatan, maka berusahalah menuju asal anda itu agar dapat anda mengenali dan menuju pada Alloh Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu. Sebaiknya hendaklah anda tahu kenapa anda dilengkapi dengan sifat-sifat kebintangan itu.

A dakah sifat-sifat kebinatangan itu akan menaklukkan anda atau adakah anda menakluki mereka?. Dan dalam perjalanan anda ke atas martabat yang tinggi itu, anda akan gunakan mereka sebagai tunggangan dan sebagai senjata.

Langkah pertama untuk mengenal diri ialah mengenal bahwa anda itu terdiri dari bentuk yang zhohir, yaitu tubuh ; dan hal yang batin yaitu hati atau Ruh . Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu bukanlah daging yang terletak dalam sebelah kiri tubuh.

Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu ialah satu hal yang dapat menggunakan semua kekuatan, yang lain itu hanyalah sebagai alat dan kaki tangannya saja. Pada hakikat hati itu bukan termasuk dalam bidang Alam Nyata(Alam Ijsam) tetapi adalah termasuk dalam Alam Ghaib. Ia datang ke Alam Nyata ini ibarat pengembara yang melawat negeri asing untuk tujuan berniaga dan akhirnya kembali akan kembali juga ke negeri asalnya. Mengenal hal seperti inilah dan sifat-sifat itulah yang menjadi "Anak Kunci" untuk mengenal Alloh.

Sedikit ide tentang hakikat Hati atau Ruh ini bolehlah didapati dengan memejamkan mata dan melupakan segala hal yang lain kecuali diri sendiri. Dengan cara ini, dia akan dapat melihat tabiat atau keadaan "diri yang tidak terbatas itu". Meninjau lebih dalam tentang Ruh itu adalah dilarang oleh hukum. Dalam Al-Quran ada diterang, Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Bani Israil:85)

Demikianlah sepanjang yang diketahui tentang Ruh itu dan ia adalah mutiara yang tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan ia termasuk dalam "Alam Amar/perintah". Ia bukanlah tanpa permulaan. Ia ada permulaan dan diciptakan oleh Alloh. Pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama, tetapi adalah hasil dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan itu, seperti tersebut di dalam Al-Quran : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut:69)

Untuk menjalankan perjuangan Keruhanian ini, bagi upaya pengenalan kepada diri dan Tuhan, maka

•Tubuh itu bolehlah diibaratkan sebagai sebuah Kerajaan,
•Ruh itu ibarat Raja.
•Pelbagai indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu pasukan tentara.
•Aqal itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
•Perasaan itu ibarat Pemungut pajak, perasaan itu terus ingin merampas dan merampok.
•Marah itu ibarat Pegawai Polisi,
•Marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekerasan.

Perasaan dan marah ini perlu ditundukkan di bawah perintah Raja. Bukan dibunuh atau dimusnahkan karena mereka ada tugas yang perlu mereka jalankan, tetapi jika perasaan dan marah menguasai Aqal, maka tentulah Ruh akan hancur.

Ruh yang membiarkan kekuatan bawah menguasai kekuatan atas adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. Orang yang menumbuh dan memelihara sifat-sifat iblis atau binatang atau Malaikat akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang atau Malaikat itu. Dan semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan.

•Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,
•Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
•Orang yang suci seperti Malaikat.

Tujuan disiplin akhlak (moral) ialah untuk membersihkan Hati dari karat-karat hawa nafsu dan amarah, sehingga ia jadi seperti cermin yang bersih yang akan memantulkan Cahaya Alloh Subhanahuwa Taala.

Mungkin ada orang bertanya,

"Jika seorang itu telah dijadikan dengan mempunyai sifat-sifat binatang, Iblis dan juga Malaikat, bagaimanakah kita hendak tahu yang sifat-sifat Malaikat itu adalah sifatnya yang hakiki dan yang lain-lain itu hanya sementara dan bukan sengaja?"

Jawabannya ialah mutiara atau inti sesuatu makhluk itu ialah dalam sifat-sifat yang paling tinggi yang ada padanya dan khusus baginya. Misalnya keledai dan kuda adalah dua jenis binatang pembawa barang-barang, tetapi kuda itu dianggap lebih tinggi darjatnya dari keledai karena kuda itu digunakan untuk peperangan. Jika ia tidak boleh digunakan dalam peperangan, maka turunlah ke bawah derajatnya kepada derajat binatang pembawa barang-barang. saja.

Begitu juga dengan manusia; daya yang paling tinggi padanya ialah ia bisa berfikir yaitu Aqal. Dengan pikiran itu dia bisa memikirkan hal-hal Ketuhanan. Jika daya berfikir ini yang meliputi dirinya, maka bila ia mati (bercerai nyawa dari tubuh) , ia akan meninggalkan di belakang semua kecenderungan pada hawa nafsu dan marah, dan layak duduk bersama dengan Malaikat. Jika berkenaan dengan sifat-sifat Kebinatangan, maka manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang, tetapi Aqal menjadikan manusia itu lebih tinggi tarafnya, karena Al-Quran ada menerangkan bahwa,

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman:20)

Jika sifat-sifat yang rendah itu menguasai manusia, maka setelah mati, ia akan memandang terhadap keduniaan dan merindukan keindahan di dunia saja.

Ruh manusia yang berakal itu penuh dengan kekuasaan dan pengetahuan yang sangat menakjubkan.
Dengan Ruh Yang Berakal itu manusia dapat menguasai segala cabang ilmu dan Sains.
Dapat mengembara dari bumi ke langit dan balik semula ke bumi dalam sekejap mata.
Dapat memetakan langit dan mengukur jarak antara bintang-bintang.
Dengan Ruh itu juga manusia dapat menangkap ikan ikan dari laut dan burung-burung dari udara.
Menundukkan binatang-binatang untuk tunduk kepadanya seperti gajah, unta dan kuda.

Lima indera (pancaindera) manusia itu adalah ibarat lima buah pintu terbuka menghadap ke Alam Nyata (Alam Syahadah) ini.

Lebih ajaib dari itu lagi ialah Hati. Hatinya itu adalah sebuah pintu yang terbuka menghadap ke Alam Arwah (Ruh-ruh) yang ghaib.

Dalam keadaan tidur, apabila pintu-pintu dunia tertutup, pintu Hati ini terbuka dan manusia menerima berita atau kesan-kesan dari Alam Ghaib dan kadang-kadang membayangkan hal-hal yang akan datang. Maka hatinya adalah ibarat cermin yang memantulkan (bayangan) apa yang tergambar di Luh Mahfuz. Tetapi meskipun dalam tidur, pikiran tentang hal-hal keduniaan akan menggelapkan cermin ini. maka gambaran yang diterimanya tidaklah terang. Setelah lepasnya nyawa dengan tubuh (mati), Pikiran-pikiran tersebut hilang sirna dan segala sesuatu terlihatlah dalam keadaan yang sebenarnya.

Firman Alloh dalam Al-Quran :

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qaaf:22).


PEMBUKAAN HATI KE ALAM GHAIB
Pembukaan pintu hati ke Alam Ghaib ini berlaku juga dalam kondisi-kondisi yang dekat Wahyu Kenabian, di mana Intuisi atau Wahyu atau Ilham terbit dalam pikiran tanpa di bawa melalui saluran-saluran indera(pancaindera) sebagaimana seseorang itu menyucikan dirinya dari pengaruh nafsu kebendaan dan menumpukan(konsentrasi) pikirannya kepada Alloh. Maka semakin bertambah teranglah kesadarannya pada Intuisi atau Ilham yang seperti itu. Mereka yang tidak tahu tentang hal ini tidak berhak menafikan hakikat tersebut.

Intuisi (Ilham) ini bukanlah terbatas bagi mereka Kenabian saja. Ibarat besi, jika selalu digosok dan digilap akan menjadi berkilat seperti cermin. Begitu juga jiwa dan pikiran yang diasuh dengan disiplin sedemikian rupa akan dapat menerima informasi dari Alam Ghaib itu. Sebab itulah Nabi Muhammad SAW. ada bersabda,

"Tiap-tiap kanak-kanak itu dilahirkan dalam keadaan Islam (fitrah), maka kemudian ibu-bapanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi"

Tiap-tiap manusia dalam kesadaran batinnya yang dalam itu pernah mendengar pertanyaan;

Bukankah aku ini Tuhanmu?" dan mereka menjawab; "Ya", sebenarnya" tetapi sesetengah hati adalah ibarat cermin yang penuh debu dan berkarat sehingga tidak memberi bayangan apa-apa di dalamnya. Tetapi hati Ambiya dan Aulia meskipun mereka itu manusia biasa yang mempunyai perasaan seperti kita, mereka sangat senang dan cepat menerima semua gambaran atau Ilham Ketuhanan Yang Maha Tinggi itu.

Bukanlah karena Ilmu yang didapati dari Ilham atau Wahyu atau Intuisi itu saja yang menyebabkan Ruh manusia itu dapat menduduki martabat pertama atau paling tinggi di kalangan makhluk, tetapi juga oleh karena kekuasaannya(Ruh). Sebagaimana Malaikat-malaikat menguasai atau memerintah unsur-unsur, maka begitu jugalah Ruh itu. Ia memerintah anggota-anggota tubuh. Ruh-ruh yang mencapai peringkat kekuasaan yang khusus bukan saja memerintah tubuh mereka sendiri tetapi juga tubuh-tubuh yang lain.

Jika mereka menginginkan orang sakit supaya sembuh, maka sembuhlah ia, atau orang yang sehat bisa disakitinya; atau jika mereka inginkan seseorang supaya datang kepada mereka, maka datanglah orang itu.

Oleh karena kerja-kerja Ruh yang kuat ada dua macam; yaitu baik dan jahat, maka perbuatan mereka itu pun dibagikan dua macam juga yaitu Mukjizat dan yang lagi satu Sihir.

Ruh-ruh yang kuat ini berbeda dari Ruh-ruh orang biasa dalam tiga hal:
Apa yang orang lain dapat lihat secara mimpi dalam tidur, mereka lihat dalam jaga.
Orang lain hanya dapat menguasai tubuh mereka sendiri saja, mereka ini dapat menguasai tubuh-tubuh selain diri mereka juga.
Orang lain mendapat Ilmu dengan belajar dan mengkaji bersungguh-sungguh, mereka ini mendapat Ilmu itu secara Ilham atau Wahyu.

Bukanlah ini saja tanda yang membedakan mereka dari orang biasa. Ada lagi yang lain. Tetapi itulah saja yang kita ketahui. Sebagaimana juga kita ketahui yaitu Alloh itu saja yang mengenal DiriNya Yang Sebenar-benarNya, begitu jugalah hanya Nabi-nabi itu juga yang mengenal Hakikat Kenabian itu sebenarnya. Ini tidaklah mengherankan. Sedangkan dalam kehidupan sehari-harian ini pun kita mengalami kesulitan untuk menerangkan keindahan sesuatu Syair atau Puisi kepada orang yang tidak tahu dan tidak faham tentang Syair dan Puisi; atau keindahan warna pada orang buta.

Di samping ketidakmampuan, ada hal lain lagi yang menghalang seseorang itu mencapai Hakikat Keruhanian. Satu daripadanya ialah Ilmu yang diperolehi dari luar.

Sebagai ibarat, hati itu adalah sebuah telaga, dan lima indera ialah lima batang pipa air yang sentiasa mengalirkan air ke telaga itu. Untuk mengetahui isi telaga itu sebenarnya, pipa air itu hendaklah dihentikan mengalir ke dalam telaga itu untuk sementara waktu, dan sampah-sampah yang di bawa oleh pipa air itu hendaklah dibuang dari telaga itu. Demikianlah ibaratnya.

Sekiranya kita hendak mencapai Hakikat Keruhanian yang suci itu, maka kita hendaklah sementara waktu menepikan Ilmu yang diperolehi dari proses luar (yaitu yang datang dari luar seperti belajar, membaca dan sebagainya) di mana biasanya telah menjadi beku dan keras dan bersifat Prasangka (Doqmatic Prejudice).

Di samping itu ada pula satu kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang pendek IlmuNya, yaitu setelah mereka mendengar percakapan orang-orang Sufi, mereka pun merendah-rendahkan taraf ilmu. Ini adalah ibarat seorang yang bukan ahli dalam bidang Ilmu Kimia mengatakan, "Kimia itu lebih baik dari emas!", dan ia enggan menerima apabila emas diberikan kepadanya. Kimia lebih baik dari emas, tetapi ahli-ahli Kimia yang sebenar-benar pakar sangat sedikit bilangannya. Begitu jugalah ahli-ahli Sufi yang pakar sebenarnya amat sedikit bilangannya.

Orang yang hanya tahu sedikit saja berkenaan Kesufian adalah tidak lebih tinggi martabatnya dari orang-orang yang berpengetahuan. Begitu juga orang yang baru mencoba beberapa percobaan dalam bidang Kimia, janganlah hendak merendah-rendahkan orang yang kaya.

Orang-orang yang melihat berkenaan hal ini tentu akan melihat betapa kebahagian itu adalah sebenarnya berkaitan dengan Mengenal Alloh Subhanahuwa Taala. Tiap-tiap anggota kita ini suka dan tertarik dengan apa yang sebenarnya dia dirasakannya.

Misalnya :

Hawa nafsu suka dengan apa yang dikehendakinya.
Marah suka dengan membalas dendam.
Mata suka dengan benda yang indah.
Telinga suka mendengar musik yang merdu dan sebagainya.

Fungsi (tugas) Ruh manusia yang paling tinggi ialah Menyaksikan atau Melihat Hakikat, dan di sanalah ia mendapat ketertarikan dan kebahagiannya. Seorang itu amat gembira diberi jabatan Perdana Menteri, tetapi kegembiraan itu akan bertambah jika Raja berkawan baik dengannya dan menceritakan kepadanya rahasia-rahasia negeri.

Ahli Ilmu Falak (Astronom) dengan ilmunya dapat membuat peta-peta bintang dan perjalanan falaknya, akan merasa lebih tertarik pada ilmunya itu daripada pemain catur dengan ilmunya. Tidak ada yang lebih tinggi dari Alloh Subhanahuwa Taala.

Alangkah besarnya ketertarikan dan kebahagiaan yang didapati oleh seseorang itu hasil dari Makrifat Alloh.

Barangsiapa yang sudah hilang keinginan untuk mencapai Ilmu yang sedemikian tinggi itu, maka orang itu adalah ibarat orang yang habis seleranya untuk memakan makanan yang baik-baik; atau pun seperti orang yang lebih suka memakan tanah daripada memakan roti. Semua selera tubuh kasar ini hilang apabila mati (bercerai nyawa dengan tubuh). Selera itu mati bersama tubuh kasar itu. Tetapi Ruh tidak mati dan ia tetap membawa apa juga Ilmu tentang Ketuhanan yang ada padanya, bahkan menambahkan Ilmu itu lagi.

Sebagian hal penting berkenaan Ilmu kita tentang Alloh adalah timbul dari kajian dan pemikiran kita tentang tubuh kita sendiri, yang membukakan kepada kita kekuatan, kebijaksanaan dan Cinta Tuhan Yang Menjadikan segalanya. KekuasaanNya menunjukkan betapa setitik air dijadikan kita seorang manusia yang cukup lengkap dan sempurna. KebijaksanaanNya ditunjukkan dengan betapa rumit dan sulitnya anggota-anggota tubuh kita dan saling persesuaian antara bagian-bagian anggota tubuh itu antara satu dengan yang lain. CintaNya ditunjukkan dengan KurniaNya kepada kita bukan saja anggota-anggota yang paling penting untuk hidup seperti jantung, hati, otak, tetapi juga anggota-anggota tubuh yang tidak paling penting seperti tangan, kaki, lidah dan mata. Kemudian ditambah pula dengan perhiasan seperti hitam rambut, merahnya bibir, bulu mata yang melentik dan sebagainya.

Maka sewajarnyalah manusia itu diibaratkan sebagai " ALAM KECIL" dalam dirinya sendiri bentuk dan susunan tubuh itu hendak dikaji bukan saja oleh mereka yang hendak jadi dokter tetapi juga hendaklah dikaji oleh mereka yang ingin mencapai Makrifatulloh, sebagaimana juga mengkaji secara mendalam tentang susunan keindahan bahasa dalam Puisi yang agung akan membukakan kepada kita kebijaksanaan pengarangnya.

Bahwa Ilmu atau Mengenal Ruh itu memainkan peranan yang lebih penting untuk membawa kepada Makrifatulloh; lebih penting dari mengenal tubuh dan tugas-tugasnya. Tubuh ini ibarat kuda tunggangan dan Ruh itu ibarat Penunggangnya. Tubuh itu dijadikan untuk Ruh, dan Ruh itu untuk tubuh. Jika seseorang itu tidak tahu dirinya yang mana adalah yang paling dekat dengan Dia, maka apakah gunanya ia mengenal yang lain? Ibarat pengemis, yang dirinya sendiri pun susah hendak makan berkata pula ia akan memberi makan kepada penduduk sebuah kampung.

Dalam bab ini kita akan coba sedikit-sebanyak membicarakan keagungan Ruh manusia.

Orang yang tidak peduli kepada jiwa atau RuhNya dan membiarkan Ruh atau jiwa itu berkarat dan gelap, maka rugilah ia di dunia dan di akhirat juga.

Keagungan seseorang manusia itu sebenarnya terletak pada usaha untuk menuju Yang Kekal Abadi. Jika tidak, dalam dunia fana ini, manusia itulah yang paling lemah dari segala makhluk karena tunduk kepada kepada lapar, dahaga, panas, sejuk dan dukacita.

Hal yang paling disukai biasanya paling bahaya kepadanya, dan hal yang memberi faedah hanya dapat diperolehi melalui usaha dan susah payah. Berkenaan dengan Aqalnya pula, kesalahan yang sedikit saja pada otak bisa menyebabkan ia gila dan rusak. Berkenaan kekuasaan pula, gigitan nyamuk saja telah cukup menyebabkan ia resah gelisah dan tidak dapat tidur. Berkenaan dengan perasaan pula, dia rasa dukacita hanya dengan kehilangan beberapa sen uang. Berkenaan dengan kecantikan pula, dia tidak lebih dari hal yang kotor dibalut dengan kulit yang licin lunak. Tanpa dibasuh selalu, ia menjadi tidak menarik lagi.

Pada hakikatnya, manusia itu dalam dunia ini adalah sangat lemah dan hina. Hanya di akhirat kelak manusia itu akan bernilai dan berharga. Maka dengan cara "Kimia Kebahagiaan" dia meningkat naik dari peringkat binatang kepada peringkat Malaikat. Kalau tidak, peringkat lebih hina dan rendah dari binatang yang akan hancur dan akan jadi tanah. Maka perlulah bagi manusia di samping sadar tentang ketinggian martabatnya dari semua makhluk, sadarlah hendaknya tentang lemah hinanya, karena itu pun adalah satu "anak kunci" membuka pintu Mengenal Alloh (Makrifatulloh).

Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya'adah - KIMIA KEBAHAGIAAN - Karya : Imam Al-Ghazali

NEXT MENGENAL DUNIA