{KAFIAT NAPAS ZIKIR ALLAH-HU}

بسم الله الرحمن الرحيم
MEMBANGKITKAN TENAGA PRANA DENGAN  KAFIAT NAPAS ZIKIR  ALLAH-HU 

Assallammualaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Olah zikir napas 7 mashab ini sebenarnya sudah sangat umum di ketahui orang orang makrifatullah dan kebathinan yaitu menggunakan rahasia kekuatan kalimat ALLAH dan kalimat HU namun mungkin hanya hakikat siapa sebenar nya ALLAH yang dia sebut dan HU ini yang belum begitu banyak orang pahami secara mendetil,pada latihan 7 mazhab ini rahasia dari 2 kalimat ini di sebutkan oleh sang guru..lalu masih menurut guru saya dulu itu,zikir napas ALLAH dan HU ini sebenarnya kekuatan nya yang paling dasar artinya masih ada 6 tingkatan lagi nama ALLAH dan HU ini yang jauh lebih tinggi nilai kharomah nya jika di latih dengan olah napas yang sesuai dan dalam tulisan saya ini akan saya sampaikan ke 7 rahasia tingkatan ALLAH dan HU ini,semoga bermanfaat bagi kesehatan kawan kawan pembaca sekalian..baiklah bang agar lebih cepat maka saya akan jelaskan satu persatu ya bang seperti berikut ini

Pertama
ALLAH...banyak orang yang melakukan olah napas dengan menyebut ALLAH tampa mereka ketahui mengapa harus menyebut bunyi ALLAH,apakah sebutan ALLAH saat menghirup napas atau menghembuskan napas maksudnya ALLAH yang di sembah itu atau menyembah ALLAH,bunyi nya sama bang..tapi makna dan perasaannya pasti akan berbeda,jika kita tidak tau mana di antara dua makrifat tadi maka olah napas zikir kita akan menjadi kacau balau bang..kalau lagi untung akan jadi obat tapi lebih banyak tak beruntungnya latihan itu akan menjadi penyakit.
kalau saat menghirup napas kita menyebut kalimat ALLAH yang maksudnya memasuk kan zat yang di sembah itu kepada diri kita maka latihan seperti akan sangat berbahaya bang bagi diri orang tersebut karena dia sama dengan memasuk kan yang besar ke dalam yang kecil,tentu tidak kan pernah bisa bang..ibarat memasuk kan gajah kepada lobang botol.
penjelasan sederhana nya begini...ALLAH yang dia sebut adalah zat yang dia sembah,DIA itu akbar/maha besar dan kita yang melakukan latihan adalah yang menyembah makna nya kita lah yang maha kecil..jadi sangat sulit untuk mendapatkan kekuatan dengan olah zikir napas seperti ini bang,seharusnya yang kecil lah yang bisa dan mudah masuk ke dalam yang besar..jadi dalam latihan yang benar nya adalah kita menghembuskan napas dengan menyebut kalimat ALLAH bukan menghirup napas,saat menghembuskan napas begini maka kita rasakan lah bahwa diri kita masuk ke dalam ke maha besaran ALLAH tadi.

Kedua
HU...sangat banyak bang dalam ayat ayat kitab suci alquran surat yang membunyikan kalimat HU ini,di antara nya QUL HUWALLAHHU AHAD,ALLAH HUSSOMAD...surat lainnya ALLAH HU LA ILLAHAILLA HUWAL HAYYUL QOYYUM,pokoknya selalu ada kalimat HU di depan kalimat nama ALLAH,siapakah HU ini.. ?apakah dia nama tuhan juga atau nama makhluk tuhan,hal ini perlu kita ketahui bang agar posisi antara kita dengan tuhan saat melakukan olah napas zikir ini jelas sehingga tidak terjadi saling merampas haq antara tuhan dan kita.
guru saya dulu mengatakan..kalimat ALLAH itu lah zat dan HU itu sipat,..makna lain ALLAH lah nurrullah dan HU itu nur muhammad,tambahan pengertian selanjutnya ALLAH itu sang maha pemberi dan HU itu lah yang meminta nanti jika telah mahir dalam latihan olah zikir napas 7 mashab ini maka akan terlihat bang bahwa ALLAH adalah tuhan dan HU itu kekuatan tuhan...jadi oleh sebab itu kita menghirup napas dengan menyebut kalimat HU karena kita meminta hidup,meminta kesehatan,meminta obat,meminta kekuatan..kita menarik kekuatan tuhan yang ada dalam HU tersebut...

sempurna nya gerakan zikir napas 7 mashab seperti berikut
berdiri dengan kedua kaki ter buka sekitar satu jengkalan tangan orang dewasa..lalu kedua telapak tangan masih bergantung lurus di samping badan namun telapak tangan telah di buka..mulai lah menghirup napas dari hidung dan saat memulai menghirup kedua telapak tangan di angkat seperti orang tengah berdoa,sampai di depan dada maka napas pun harus sudah terhirup semua nya,lalu hembuskan melalui hidung..lakukan cara ini dua kali ulangan..lalu pada hembusan ke empat maka napas di hembuskan melalui mulut dan saat napas keluar dari mulut hembusannya di bentuk huruf allah ( seperti menulis huruf allah dengan hembusan napas mulut) lakukan latihan seperti ini sebanyak 7x ulangan ya bang...biasanya pada ulangan ke 4 maka mata akan mulai melihat percikan percikan cahaya kecil seperti debu..nah itu sebenarnya nur muhammad tadi bang..kalau sudah nampak begini hirup percikan percikan cahaya tersebut dalam latihan berikut nya.

MAZHAB BERIKUTNYA (RAHASIA ALLAH DAN HU TINGKAT KEDUA)

kalimat ALLAH pada tingkatan ini akan bernama QODRAT dan HU akan bernama IRADAT.
maaf bang..ini mohon agak hati hati sedikit dalam mengamalkannya karena biasanya saat melatihnya akan timbul tekanan tekanan yang cukup kuat ke arah badan..maksudnya badan akan menjadi memiliki getaran getaran listrik dan jika terlalu asyik maka benda benda di sekitar nya terkadang mudah terpental dan rusak..mungkin pada tingkatan ini akan lebih cocok bagi orang orang yang senang dengan ilmu ilmu bela diri,jadi bagi yang berniat untuk kesehatan jasmani dan rohani zikir napas bagian ini boleh di langkahi saja maksudnya tidak di lakukan.
QODRAT wujud zahir nya adalah huruf alif dan IRADAT wujud zahir nya adalah mim....jadi hiruplah yang dalam melalui hidung sampai di tekan di bawah pusat,posisi badan duduk dengan kaki di lipat di bawah pantat,saat napas sudah di bawah pusat maka tahanlah napas dan mulut di tutup,lalu ucapkan huruf 'mim' dengan nada panjang,suara bergumam...setelah tidak tahan maka hembuskan napas melalui mulut sambil menyebut dengan bersuara huruf 'alif ' sampai napas habis keluar semuanya.posisi kedua tangan berada di atas kedua paha...setelah napas normal kembali maka ucapkanlah " allah qodrat,hu iradat".lalu ulangi kembali latihan seperti ini beberapa kali sesuai dengan kebutuhan kita saja jumlah ulangannya.

MAZHAB TINGKAT KETIGA
kalimat qodrat akan berubah menjadi HAQ dan kalimat iradat akan berubah pula menjadi HIQ
zikir tingkat tiga ini lebih berat bang karena betul betul memasuk kan wujud wujud kekuatan allah ke dalam serat serat tubuh nya,pada masa awalnya zikir napas tingkat tiga ini hanya di lakukan dalam kelambu tidur bang,karena olah napas zikir ini sangat di rahasia kan..konon menurut yang saya dengar zikir ini sangat mirip dengan suara auman lebah yang sangat ramai jika sudah menyatu dan asyik di lakukan oleh seseorang,dulu kalau saya lagi takut keluar rumah untuk melatih nya sebab di kampung saya jam 8 malam saja sudah sangat sepi bang..lampu PLN pun belum masuk waktu itu dan yang paling saya takutkan harimau liar sering masuk kampung kalau malam hari bang..hehe..jadi saya lakukan betul dalam kelambu sendiri..pernah sampai asyiknya abah saya keluar dan mengejar masuk ke kamar saya bang karena kelambu tidur dan kamar saya yang tebuat dari papan bergetar dan bergoyang goyang seperti terkena gempa,setelah saya di tegur abah saya saya hentikan zikir olah napasnya dan goyangan seperti gempa pun berhenti...zikir nya begini bang
'duduk bersila..lebih bagus setelah selesai sholat malam dengan pakaian kain sarung agar lebih longgar tenaga yang akan menghampiri kita,kalau pakai celana biasanya kekuatan yang datang akan terasa mengikat kuat ke badan sehingga jika memakai celana kita akan kesakitan.
tata cara nya tidak menghirup napas tetapi menghentak kan napas..proses nya begini " mulut di tutup,sedapat mungkin jangan menghirup napas panjang dari hidung,artinya napas yang ada dalam mulut saja yang di kelola..katakan kalimat HAQ di ucapkan sambil di tekan ke arah perut ( di tekan sambil di ucapkan dengan berguman sebab mulut tertutup biasanya perut akan bergerak mengembung) setelah di sebut HAQ maka mengejan lah ( maaf saya tak tau bahasa jakarta nya 'mengejan' ) dengan mengejan maka dubur akan tertarik ke atas..saat mengejan ini berguman lah dengan ucapan HIQ..lakukan berurutan dengan irama hentakan yang serasi maka akan terdengar kekuatan bunyi HAQ,HIQ,HAQ,HIQ secara bergantian dan tubuh akan mengeluarkan getaran yang sangat kuat..semakin khusuk maka akan semakin cepat suara zikir ini terdengar...semakin cepat maka kita akan segera memasuki alam fana sebuah alam spiritual yang di penuhi oleh berbagai hal hal ghaib..kalau boleh saat latihan zikir napas tingkatan ini tolong siapkan jam weker bang..karena kalau tidak ada yang mengingatkan maka kita akan hanyut berjam jam tampa sadar dalam melakukannya sampai terjadi hal seperti yang saya alami barulah kita dapat menghentikannya,jadi kalau ada jam weker kita kan dapat menentukan waktu latihannya.

MAZHAB KE EMPAT
Qodrat maujud kepada HUWA dan iradat maujud kepada HUWANG..posisi latihan zikir napasnya adalah berdiri dengan kedua betis kaki agak sedikit terbuka dan di rendahkan,kedua tangan berada bertumpuk di atas ubun ubun kepala,telapak tangan kiri sebelah bawah dan telapak tangan kanan di tumpuk di atas telapak tangan kiri,posisi nya seperti tengah menjunjung sesuatu.
huwa menurut guru saya dulu adalah kekuatan taqdir yang tak bisa di ganggu gugat artinya huwa adalah kekuatan allah dalam berkehendak yang tidak dapat satu pun makhluk menyangkalnya,jadi makrifatullah kita di saat menyebut kalimat huwa adalah fana/pasrah dan meyakini bahwa sekuat apapun ilmu,usaha dan doa tidak akan mampu merubah kehendak yang telah allah tetapkan,dengan merasa begini maka latihan zikir napas ini akan menjadi tampa nafsu apapun,kita lakukan hanya sekedar karena ingin berikhtiar saja untuk sembuh namun jangan sekali kali kita meyakini latihan ke empat ini akan merubah qodrat illahi yang telah di tetapkan kepada kita...orang sini menyebutnya dalam kondisi fana.
sedangkan HUWANG...adalah kehendak makhluk yang telah allah serahkan total kepada makhluk itu untuk bertanggung jawab ke atas kehendak tersebut,dalam arti umumnya huwang adalah kekuatan kehendak dan kumpulan segala keyakinan dan kepercayaan yang makhluk itu bisa..maka di saat menyebut kalimat huwang dalam olah zikir napas nanti segala keyakinan akan apa yang kita lakukan harus teguh,kokoh dan tak ada satupun makhluk lain yang dapat menggoyahkannya...huwang ini wujud nya adalah menjaga nyawa yang telah allah berikan kepada kita,nyawa kita celaka atau selamat itu di serahkan kepada makhluk untuk menjaga nya sampai datang nanti huwa allah yaitu kematian,sebelum huwa itu datang maka makhluk memiliki huwang/kehendak yang telah di serah terima kan kepada makhluk tersebut...posisi lengkapnya seperti ini
'berdiri dengan posisi seperti yang telah saya jelaskan di atas..hirup napas dengan lembut melalui hidung dan tahan di dada dengan membayangkan segala kekuatan kehendak masuk dan berkumpul di dalam badan kita,agar napas tidak masuk ke perut maka saat menghirup perut di kempiskan sehingga napas hanya akan berkumpul di dada,saat napas telah di dada maka dengan suara tenggorokan sebutlah kalimat 'huwang' dengan pelan pelan dengan jumlah sampai mulai sesak karena kekurangan napas,lalu hembuskan napas melalui mulut,gigi di rapatkan saat napas keluar dan bergumanlah menyebut kalimat 'huwa'saat menghembuskan ini tolong di rasakan segala kehendak kita masuk kepada kehendak yang lebih besar,satu lagi saat napas terhembus kedua telapak tangan yang bertumpuk di atas ubun ubun kepala di tarik menggeser ke bagian tepi kepala hingga telinga dan berakhir di samping leher.
untuk kesembuhan penyakit asam urat,diabates,reumatik..sebaiknya latihan ini di ulang sebanyak 5 kali ulangan.

MAZHAB ZIKIR NAPAS KE LIMA
HUWA,,akan maujud kepada rasa/perasaan hidup..dalam kalimat nya rasa hidup ini di sebut dengan HUWALLAHU sedangkan huwang akan maujud kepada HUWALLAZDI..zikir mazhab ke lima ini sering di sebut zikir kekuatan lidah karena gaya berzikirnya memanfaatkan gerak kan lidah secara khusus,dalam kepercayaan guru saya lidah itu adalah tali jantung nya hati,artinya semua urat urat halus di ujung lidah itu tersambung langsung kepada bagian hati tubuh manusia baik hati yang wujud maupun hati yang sirr/halus.
posisi zikir nya duduk di kursi sehingga kaki dapat berjuntai menginjak tanah,kedua telapak tangan di biarkan terurai di samping badan ke bawah juga,saat akan memulai zikir ini maka ayunkan lah ke depan dan kebelakang kedua tangan tersebut dan mulai lah melakukan zikir nya yaitu sebutlah kalimat huwallahu dengan lidah menyentuh langit langit mulut saat mengeucapkan huruf "LAM"..dan saat menyebut 'LAHU' lidah di lepaskan dari menempel di langit langit sehingga secara otomatis akan ada napas yang terhembus ke luar,bergantian setelah menyebut huwallahu menyebut kalimat huwallazdi..semakin lama kawan kawan melakukannya maka di mulut kawan kawan akan mengalir hawa dingin yang sangat sejuk..jika telah sejuk hiruplah kesejukan itu hingga masuk kan ke dalam jantung,kawan kawan akan merasakan satu ketenangan yang luar biasa...sebaiknya di lakukan latihan ini pada malam hari apalagi di malam malam bulan suci ramadhan,rasa damai yang di hasilkannya sangat terasa sekali.

MAZHAB ZIKIR NAPAS KE ENAM
HUWALLAHU maujud kepada ALIF dan HUWALLAZDI maujud kepada "YA"..alif berdiri di tiang khursani diri,ibu nya bernama arasy dan bapaknya bernama khursy..wujud nya dalam badan manusia adalah tiang khursani itu adalah tulang punggung belakang yang bengkok sedikit,ibu nya adalah tulang shulbi (tulang yang berbentuk angka 8 di atas dubur manusia dan bapaknya adalah tulang tengkuk/tulang leher belakang,,kalau tulang khursani tidak di asuh dan di rawat baik oleh ibu dan bapaknya maka tulang khursani itu akan menjadi tulang buangan,mudah sakit sakitan dan lemah,dalam zikir napas mazhab ke enam ini ibu dan bapak tulang alif ini akan mengasuh dan memberikan perhatian yang baik.
sedangkan kalimat "YA" adalah pengunci penyakit dari segala pintu masuk di badan manusia,sehingga dengan melakukan zikir napas "YA" ini insyaallah penyakit akan sulit masuk ke dalam badan orang yang melatihnya.
posisi zikir napas mazhab ke enam ialah....napas di renggangkan,maaf mungkin kawan kawan dari pulau jawa atau pun yang telah lahir di kota belum pernah mendengar napas renggang ya atau merenggangkan napas,ini saya yakin bahasa asli dari kampung saya yaitu orang yang menguap saat mengantuk maka di sebut napas renggang atau merenggangkan napas..maaf bukan saya sok tau tetapi sebenarnya saat kita menguap itu napas yang keluar bukan dari lambung tetapi udara uap dari tulang khursani,coba kawan kawan menguap saat ngantuk rasakan pelan pelan pasti ada terasa tulang punggung tertarik atau berdenyut sedikit,sebenarnya udara uap dari tulang khursani saat kita menguap ngantuk itu sangat banyak gunanya jika pandai mengolahnya..lengkap nya begini..lakukan gerakan mulut seperti menguap saat mulut terbuka itu cobalah kawan kawan ucapkan kalimat "ALIF" dengan bunyi panjang...AAALLIIFF. (posisi badan bebas) hirup napas kembali lalu sebut huruf " YA" dan saat menguap sebut kembali huruf alif dengan tajwid panjang..lakukan berulang ulang sampai tulang punggung kawan kawan terasa hangat dan mengeluarkan keringat halus..ambil sedikit dengan jari keringat halus di bagian tulang sulbi lalu ambil juga keringat halus di bagian tengkuk leher belakang lalu oleskan kembali ke tulang punggung belakang,hal ini akan membuat tulang khursani kawan kawan menjadi kuat,tidak mudah terkilir dan secara jasmaniyah pintu pintu penyakit sebanyak 366 lubang di seluruh pori pori akan tertutup oleh hawa hangat tulang khursani kawan kawan...insyaallah badan akan sulit untuk sakit.

MAZHAB ZIKIR NAPAS KE TUJUH
ALIF maujud kepada kalimat bismillahirrahman nirrahim dan YA akan maujud kepada kalimat innalillahi roji'un...bismillahirrahman nirrahim sebagai permulaan hayyat/hidup dan innallillahi rojiun sebagai penutup hayyat/hidup..kita memulai meminta hidup yang selamat,hidup yang sehat,hidup yang ber ilmu,hidup yang bermanfaat maka hiruplah napas dengan mengucapkan kalimat bismillahirrahman nirrahim,bacaan dan hirupan napas harus seimbang,maksudnya dari mulai menghirup maka mulai juga membaca dan saat napas habis terhirup juga habis bacaan bismillahirrahman nirrahim nya..tahan napas beberapa saat dan rasakan sipat hidup dalam diri kita,rasa hidup adalah rasa bahagia..kalau boleh saya sedikit menggambarkan,rasakan lah aroma kopi bagi orang yang menyukai kopi walau tampa kopi..jika dapat merasakannya maka itu lah rasa hidup..silahkan kawan kawan praktek kan dengan rasa hidup tadi yaitu rasakan satu pengalaman yang sangat membahagiakan dalam hidup kawan kawan saat menahan napas itu...lalu hembuskan napas melalui mulut dengan mengucapkan innallillahi rojiun dengan bacaan dan hembusan napas seimbang juga,lakukan berulang ulang kali sampai kawan kawan mendapatkan rasa hidup itu/dapat merasakan hal yang sangat bahagia..posisi badan dan tangan bebas dan boleh dalam posisi apa saja.

nah begitu lah sedikit pengetahuan yang dapat saya serahkan kepada para pembaca ,semoga dapat menjadi wasilah persahabatan dan kekeluargaan yang erat, Bagi yang berminat silahkan langsung saja di pelajari dan di pahami, jika sudah paham silahkan langsung juga di amalkan..tidak perlu meminta ijin kepada saya, kerana semestinya sudah diizin oleh Guru Bathin saya T.R.R.K S.H untuk saudara pembaca mengamalkannya.
assallammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(9 Wajah 9)

بسم الله الرحمن الرحيم
Shia-Hizbun AnNabi wa AaliBaitihi wa Ashabihi's photo.
Shia-Hizbun AnNabi wa AaliBaitihi wa Ashabihi 

9 Wajah 9
1. Sirrus sirr,
2. Sirr
3. Ahdah,
4. Wahdah,
5. Wahdiah,
6. Ahmad,
7. Muhammad ,
8. Mustafa
9. Mahmud.

Ada 9 (Sembilan) Tashahud juga yang kita lakukan dalam Sholat 5 waktu..
dan pada waktu-waktu itulah wajah-wajah ini akan keluar.
“Inni Wajjahtu wajhiya lillazi fatar-as-samawati wal arda hanifam wama ana min-al-mushrikin.”
Bagi mereka yang belum menjalani Maqam Solahuddaim, maka dia tidak dapat mengeluarkan wajah-wajah ini, karena apabila wajah Ahmad dan Muhammad keluar dan mereka tidak menapaki Maqam Solahuddaim maka itu artinya dia akan mati.
Hanya yang sudah mencapai Maqam Solahuddaim saja yang boleh keluarkan wajah-wajah ini.
Misalnya untuk pergi ke18.000 Alam, untuk beribadah atau menjalankan tugas Allah. Banyaknya alam ini karena Allah RABBUL ALAMIN dan Nabi Muhammad juga RAHMATALLIL ALAMIN dan kita RAHMATAN FIL ALAMIN..
Ilmu tentang wajah-wajah akan terbuka ketika telah menguasai Ilmu tentang Nafas, Anfas, Tanafas dan Nufus, setelah melalui beberapa tahapan, misalnya dengan Nafas Ar-Rahman dan Wajah Ar-Rahman.
Dalam hal kita menapaki jalan Tasawuf yaitu jalan Hakekat dan Makrifatullah, diperlukan suatu keikhlasan dan kesungguhan oleh karena itu Guru yang Mursyid dan yang Kasyaf sangat diperlukan untuk memantau dari jarak jauh, maksudnya guru tahu apa yang anak murid mimpikan di malam hari.
Kemampuan untuk “DUDUK DALAM KALIMAH” penting, ini artinya kita harus menguasai Zikir Nafas dan penyucian diri, agar kita mampu menghalau semua yang akan datang mengganggu, mereka yang mencapai tahap suci ini akan dapat berjumpa dengan para Anbiya’ dan para Malaikat, dapat belajar langsung dari mereka, setelah itu akan dapat Bapak dan Ibu,guru “keruhanian” kemudian jika maqam meningkat maka akan diberikan nama Rahasia yang dengan nama inilah penghuni langit mengenalinya
Jika saja Roh dapat menembus 7 lapis langit, maka tentu dapat juga menembus 7 lapis bumi, dan pastinya akan dapat mengetahui rahasia-rahasia makhluk yang duduk di semua lapisan ini.
Dengan demikian mudahlah bagi mereka untuk menghantar balik makhluk yang asalnya dari lapisan-lapisan ini, pada keadaan ini biasanya gurunya terlebih dahulu sudah membuka rahasia huruf-huruf Muqotat, sebab ini merupakan kunci-kunci perbendaharaan untuk masuk kedalamnya
Bagi mereka yang sudah disahkan Mengenal Diri = Mengenal Allah, maka tidak ada yang dapat mengodanya dengan apapun jua, walau godaan tetap saja ada dan juga bagi yang dapat mengenal Diri akan diberi Anugerah Kasyaf (tembus pandang) oleh Allah Ta’ala.
Bukti sudah mengenal Diri ialah ketika dia dapat mengeluarkan 9 wajahnya semua. Dan juga, ketika dia telah ditalqinkan oleh gurunya (kafan-kan) dan ketika pintu langit telah terbuka dan dia melihat semua isi langit : Sidratul Muntaha, Baitul Arsy, Arsyillah.
Puncaknya adalah ketika masuknya Al-Quran dari langit terus ke Dada dan mendapat kesempatan membaca Al-Quran di Sidratul Muntaha.
Allah berfirman di dalam Hadis QudsiNya :
“Hai hambaKu, bila engkau ingin masuk ke HaramilKu (Haramil Qudsiyah), maka engkau jangan tergoda oleh Mulki, Malakut, Jabarut karena alam Mulki adalah setan bagi orang Alim, Alam Malakut adalah setan bagi orang Arif dan Alam Jabarut adalah setan bagi orang yang akan masuk ke Alam Qudsiyah”.
Wajib bagi semua manusia mengetahui tahap mampu dirinya yaitu berada pada alam yang mana dan jangan mengaku-ngaku sesuatu yang bukan haknya.
“Allah menyayangi orang-orang yang mengetahui kadar dirinya dan tidak melampaui batas perjalanannya menjaga lisannya dan tidak menyia-yiakan umurnya”.
Seorang Alim harus mampu mencapai makna hakekat manusia yang disebut “Tiflul Ma’ani” (Bayi Ma’nawi).
Setelah itu harus mendidiknya dengan tetap melakukan Asma Tauhid dan keluar dari alam Jasmani ke alam Ruhani, yaitu alam As-Sirri yang di sana tidak ada sesuatu pun selain AlLah. Sirr itu seperti lapangan dari cahaya, tidak ada ujungnya. Inilah Maqam Al-Muwahidin.
Berusahalah untuk mencapai ke tahap itu melalui ajaran guru atau orang yang ahlinya. Ada di antaranya sengaja tidak diuraikan dengan lebih lanjut karena sebagiannya adalah rahasia yang perlu dibicarakan secara khusus.
MELAHIRKAN SEMULA BAYI MAKNAWI = MEMULANGKAN AMANAH ALLAH
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah SULTANUL atau QUTUBUL AULIA’ yakni Penghulu segala Wali wali Allah, maka wajarlah kita dalam mencari JALAN PULANG menjadikan beliau sebagai salah satu SUMBER rujukan.
Petikan dari kitab “SIRRUR ASRAR” .
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menamakan kandungan itu sebagai TIFLUL MA’ANI atau BAYI MAKNAWI dan menjelaskan bahwa istilah itu merujuk kepada RUHKU ALLAH yang disebutnya sebagai RUH AL-QUDSI.
1. Makhluk pertama yang diciptakan Allah (baca ditajallikan) adalah RUH MUHAMMAD diciptakan dari Cahaya JAMAL ULLAH.
2. Ruh Muhammad adalah RUH YANG TERMURNI sebagai makhluk pertama dan ASAL seluruh makhluk. Dari Ruh Muhammad itulah Allah menciptakan semua ruh di Alam LAHUT yakni NEGERI ASAL bagi seluruh manusia. maka kita sebut kita ini sebagai UMAT MUHAMMAD.
3. Selanjutnya ruh-ruh (perhatikan bukan ruh tetapi ruh ruh) diturunkan ke Alam TERENDAH dimasukkan pada makhluk terendah yakni JASAD setelah membuat PENGAKUAN dihari PERJANJIAN dimana Allah bertanya “Alastu birabbikum” = Bukankah Aku ini Tuhanmu ? Ruh menjawab, Benar Engkaulah Tuhan kami..
4. Proses turunnya (ruh) adalah setelah ruh diciptakan di Alam LAHUT , maka diturunkan ke Alam JABARUT dan DIBALUT dengan CAHAYA JABARUT sebagai pakaian antara DUA HARAM disebut sebagai RUH SULTANI. Selanjutnya diturunkan lagi ke Alam MALAKUT dan dibalut dengan cahaya MALAKUT dinamakan sebagai RUH RUHANI. Kemudian diturunkan lagi ke Alam MULKI dan dibalut dengan CAHAYA Mulki dinamakan RUH JASMANI.
5. Untuk KEMBALI (jalan pulang) ke negeri asalnya (Alam LAHUT) manusia perlu beribadah, maksudnya ibadah disini adalah MAKRIFATULLAH. Makrifat terwujud bila manusia dapat melihat indahnya sesuatu YANG TERPENDAM dan TERTUTUP didalam RASA di LUBUK HATI disebut sebagai KUNZA MAHFIYYAN = terpendam dan tertutup, firman Allah : “ Kuciptakan makhluk agar mereka MengenalKu”.
6. Alam Makrifat = Alam Lahut = Negeri Asal kita = Tempat Ruh Al-Qudsi = Bayi Yang Perlu Dilahirkan semula = AKU
7. Yang dimaksudkan dengan Ruh Al-Qudsi adalah HAKEKAT MANUSIA yang disimpan di LUBUK HATI, Keberadaannya akan diketahui dengan MENGAMALKAN secara TERUS MENERUS Kalimah Syahadah “La Ilaha Illallah”
8. Ahli tasauf menamakan Ruh Al-Qudsi dengan sebutan TIFLUL MAANI ( bayi maknawi ) karena ia dari MA’NAWIYAH QUDSIYYAH
Pemberian nama TIFLUL MAANI didasarkan kepada :
1. Ia lahir dari HATI seperti lahirnya bayi dari RAHIM ibu dan ia diurus dan dibesarkan hingga dewasa (dengan gerak rasa)
2. Bayi bersih dari segala kotoran dosa lahirriyah. Tiflul Maani juga bersih dari SYIRIK dan GHAFLAH (lupa kepada Allah)
3. Tiflul Ma’ani HALUS dan SUCI
4. Ia BERWUJUD seperti RUPA MANUSIA (itu) juga karena MANISnya bukan karena kecilnya dan dilihat dari AWAL ADA-nya, ia adalah MANUSIA HAKIKI (yang sebenar-benarnya kita atau manusia = A-KU) karena Dialah YANG BERHUBUNGAN LANGSUNG DENGAN ALLAH. (jasad tak dapat berhubung dengan Allah secara langsung /terus-menerus)
5. Firman Allah melalui Hadith Qudsi :
“AKU punya waktu khusus dengan Allah, Malaikat terdekat , nabi dan rasul tidak akan memilikkinya”
“Kamu sekalian akan melihat Tuhanmu saperti kamu melihat sinar bulan purnama”.
Al-Quran :
“Wajah wajah orang MUKMIN pada hari itu BERSER-SERI”.
Yang dimaksudkan dengan MALAIKAT TERDEKAT = RUH RUHANI yang diciptakan di alam Jabarut.
Bila segala sesuatu SELAIN RUH AL-QUDSI masuk ke Alam LAHUT maka pasti akan TERBAKAR.
Dalil dari Hadist Qudsi yang lainnya :
1. ILMU BATIN adalah RAHASIA diantara RahasiaKu. Aku jadikan didalam HATI hamba hambaKu dan tidak ada MENEMPATINYA kecuali AKU.
2. Aku ini BERADA pada SANGKAAN hambaKu. Aku bersamanya ketika dia MENGINGAT –Ku. Bila dia mengingatKu pada HATI-nya, Aku pun mengingatnya pada Dzat-Ku.


“ T A F A K U R “

Yang dimaksudkan dengan Hadits ini adalah manusia pada WUJUD MANUSIA yaitu di alam TAFAKUR
Hadits Baginda Rasul :
“Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada IBADAH 70 tahun” .
Dan berfikir tentang MAKRIFAT kepada Allah , maka nilai tafakurnya lebih daripada beribadah seribu tahun. Ini adalah ALAM MAKRIFAT yaitu ALAM TAUHID.
Wajhillah = Wajah Allah dalam al-Quran
Ayat-ayat berikut yaitu : (2:115), (2:272) , (30:38), (30:39) dan (76:9) mempunyai rahasia yang besar dari segi hiraki manusia , pentabiran Allah swt kepada para Khalifah-khalifahNya yang merupakan
golongan Khawasul Khawas.
Ulasan ringkas : Ayat pertama yang menyebut Wajah Allah ialah Al-Baqarah : 115

Sejak awal menyatakan bahwa kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat yang menekankan bahwa untuk melihat Wajah Allah kita harus meletakkan diri kita sebagai hamba yang tidak punya apa-apa sebab semuanya hak Allah.
Ini diakhiri dengan Surah Al-Insan ayat (76 : 9)
Yang menekankan agar manusia wajib melihat Wajah Allah dengan menggunakan 9 wajahnya.
5 ayat di bawah ini menjadi sandaran penting untuk Melihat Wajah Allah :

1. Terkait dengan 5X sholat fardhu = waktu yang wajib untuk memandang Wajah Allah

2. Terkait dengan 5 Ulul azmi = Muhammad saw, Isa as, Musa as, Ibrahim as dan Nuh as, yang menjadi pemandu kepada “Al Ghauts/Kembali” dalam melaksanakan tugasnya sebagai Ketua Khalifah

3. Terkait dengan 5 Naqib kepada Al-Ghauts = Qutb, Qut Al Bilad, Qutb Al Aqtab , Qutb Al Irshad , Qutb Al Mutasarrif.

4. Di bawah setiap 5 Naqib itu masing –masing ada = 7Budala (diketuai Qutb),
7Nujuba’ (diketuai Qutb Al Bilad), 7Nuquba’ (diketuai Qutb Al Aqtab ), 7Awtad
(diketuai Qutb Al Irshad) dan 7Ahyar (diketuai Qutb Al Mutasarrif).

5. Walaupun ini menunjukkan satu hiraki tegak terdapat juga hiraki mendatar yaitu Qutb lebih tinggi dari Qutb Al Bilad lebih tinggi dari Qutb Al Aqtab lebih tinggi dari Qutb Al Irshad lebih tinggi dari Qutb Al Mutasarrif.

6. Dalam masyarakat kita selalu disebut tentang kewujudan 40 Abdal, maka sebenarnya semua mereka yang di bawah Al Ghauts ini ada 40 orang. Mereka juga disebut “Rijalul Ghaib” dan maqam mereka adalah As Siddiqun dan Al Muqarrabun.

7. Mereka semua (1+40 orang) senantiasa melaksanakan Solahud Da’im karena mereka pilihan Allah (Ahlullah) dan senantiasa memandang Wajah Allah.

8. Mereka dan para Wali-wali Allah yang lain mengajak dengan ayat (12 : 108)
mendapat limpahan Rahmat dari Allah seperti yang disebut dalam surah Yunus (10 : 62)

9. Dibawah ini adalah 5 ayat yang di dalamnya terdapat uraian tentang tugas para Khalifah Allah swt, yaitu :



1. Al-Baqarah 2 : 115

”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui”.


2. Al-Baqarah 2 : 272

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan)”.
3. Ar-Rum 30 : 38
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
4. Ar-Rum 30 : 39
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.


5. Al-Insan 76 : 9

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”.

(THARIKAT INSAN)

بسم الله الرحمن الرحيم

Ketika bayi di Alam Rahim (di dalam air ketuban) belum ada nyawa, baru ada hidup yaitu adanya RUH, RASA pendengaran dan Nafsu Muthmainah,
dari Alam Rahim bayi pindah ke Alam Dunia, dan SIFAT FITRAH RUH berubah sifat menjadi ROH, ketika kontak dengan Alam Dunia itulah adanya NYAWA, nyawa adalah DARAH ada di bawah kulit di atas permukaan daging, adanya NAFAS adalah adanya HIDUP, adanya HIDUP adalah karena adanya DZAT dan SIFAT
1. RUH SULTHONIYAH ( HAK ALLAH ) 
Tempatnya di hati, jika Ruh ini keluar dari jasad, manusia akan mengalami kematian [Nafas]

2. RUH RUHANIYAH ( HAK RASULULLAH )
Tempatnya di dada [Jantung] dan pada 360 sendi = 360 hari, badaniyah bukan raga, Satu badan satu atap [Menyeluruh]

3. RUH MAKODIYAH 
Ruh ini yang suka meninggalkan jasad, termasuk mimpi, mimpi yang benar adalah kita bisa mengingatnya dan menceritakannya dengan jelas, walaupun kejadian mimpinya sudah lama.

4. RUH DINNIYAH atau JASADIYAH
Berdirinya Islam, Fitrah diri atau Fitrah Agama, Ruh Samawi

5. RUHUL QUDUS RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM
1. RUH SULTHONIYAH > INJIL > PENCIUMAN
2. RUH MAKODIYAH > TAURAT > PENDENGARAN
3. RUH DINNIYAH > AL – QUR’AN > PENGLIHATAN
4. RUH RUHANIYAH > ZABUR > PERKATAAN
Hakikat NYAWA adalah RASA JASMANI, olahan dari API – ANGIN – AIR – BUMI pada waktu itu mata terbuka belum bisa melihat, telinga belum bisa mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa berkata, hanya ada suaranya saja, setelah diberi asi atau makanan apa saja yang berasal dari saripati Api, Angin, Air dan Bumi, maka dari saripati yang empat (SAEPI 4) ini, menjadi NUR DARAH yang empat macam :
1. NUR DARAH MERAH dari Saripati API, adanya pada DAGING, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui TELINGA hingga bisa mendengar.
[RUHUS SAMMA’ = RASA PENDENGARAN]

2. NUR DARAH KUNING dari Saripati ANGIN, adanya pada SUMSUM, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar melalui HIDUNG hingga bisa mencium dan merasa.
[RUHUN NAFASI = RASA PENCIUMAN]

3. NUR DARAH PUTIH dari Saripati AIR, adanya pada TULANG, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui MATA hingga bisa melihat.
[RUHUL BASHAR = RASA PENGLIHATAN]

4. NUR DARAH HITAM dari Saripati BUMI, adanya pada KULIT, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui LIDAH [Mulut] hingga bisa berbicara.
[RUHUL KALAMI = RASA PERKATAAN]

5. NUR DARAH BENING 
Setelah bayi membesar kulitnya, membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar [banyak] sumsumnya, maka keluarlah hawanya, yaitu nafsu yang empat yaitu:

1. NAFSU AMARAH berdomisili pada TELINGA
2. NAFSU SUFIAH berdomisili pada MATA
3. NAFSU LAWAMMAH berdomisili pada LIDAH
4. NAFSU MUTHMAINAH berdomisili pada HATI
Datangnya nafsu yaitu keinginan pada waktu di beri ASI, rasa menjadi kontak dengan gulungan Api – Angin – Bumi – Air, sebab itulah adanya air susu asal dari yang empat, buktinya adalah makanan yang di makan oleh Ibu, sebab jika Ibunya tidak makan apa-apa, tidak akan ada air susu, ketika mulut bertemu dengan air susu, tentu ada rasa, rasa enak dan manis, terasa yang enak, sampai ingin lagi tidak mau telat, kalau telat suka ngambek dan menjerit, semua terjadi karena adanya pertemuan atau kontak, bukti kontaknya Ibu dan Bapak keluarlah seorang bayi dari Alam Rahim dengan hidupnya, bertemulah hawa Baathin dan Dhohir, ketika kontak dengan Alam Dunia adanya nyawa.
Sifat nyawa yaitu nafas, hakikatnya nyawa, rasa adalah buktinya, ketika rasa kontak dengan makanan maka akan menjadi nafsu dan banyak kemauan sudah pasti, dan bibit dari pada kemauan adalah karena tadi sudah merasakan air susu itu enak di rasakannya.
Ada enak sudah pasti ada tidak enak. Murakabah enak dan tidak enak sudah tentu, kepada telinga, mata, kepada penciuman begitu juga, sudah pasti ada enak dan tidak enak, bukti di pendengaran juga begitu, ada yang enak di dengar, ada yang tidak enak di dengar sehingga menimbulkan amarah.
Jika pendengaran kontak dengan suara yang jelek, kejadiannya menjadi rasa tidak enak, begitu juga jika kontak dengan suara yang baik akan menimbulkan enak, seterusnya begitu. Di mata pun bukti, ada enak di lihat dan tidak enak di lihat, malah ada penglihatan yang suka menimbulkan amarah. Matapun tergantung kontaknya dengan sifat, sifat yang baik dan yang buruk, jika baik maka akan menjadi enak, di penciuman pun begitu ada enak dan tidak enak, sama dengan pendengaran.
Semuanya itu adalah bukti dari adanya segala KEINGINAN. SIFAT RASA BAIK dan SIFAT RASA BURUK.
” Tidak ada Tuhan selain Aku. Akulah hakikat DZAT yang Maha Suci, yang meliputi SIFAT-Ku, yang menyertai [ASMA] Nama-Ku, dan yang menandai [AF’AL] perbuatan-perbuatan-Ku .”
“ Sesungguhnya AKU ini adalah ALLAH, TIDAK ADA TUHAN (yang hak) selain AKU, maka SEMBAHLAH AKU dan DIRIKANLAH SHALAT UNTUK MENGINGAT AKU ” [At -Thaahaa : 14]
AKU = DZAT atau Nurullah, SIFAT Laisa kamishlihi syaiun, Dzat yang tidak dapat diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada umpamanya.
BILLA HAEFFIN, artinya tak berwarna dan tak berupa, tidak merah tidak hitam, tidak gelap tidak pula terang.
BILLA MAKANIN, artinya tidak berarah tidak bertempat, tidak di barat tidak di timur, tidak di utara maupun di selatan, tidak di atas maupun di bawah.
DZAT yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada mahluk lain ciptaan-Nya, berbeda dengan manusia yang membutuhkan Allah, untuk bisa selamat di kehidupan Dunia dan Akhirat, adanya Alam semesta, Dunia, Arasy, Malaikat, Idajil atau Azazil, Iblis, Setan, Jinn dan Manusia, dan semua ciptaan-Nya yang ada, adalah karena akibat dari adanya Dzat Yang Maha Suci.
1. Sebelum Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan Alam-alam, termasuk Alam Semesta, Arasy, Bumi dan Langit beserta isinya, yang ada hanyalah Dzat di Kesunyian Sejati Martabat Yang Maha Suci, Alam Tunggal Sejati, Ghaibul Ghaib.
SIFAT adalah Laisa kamishlihi syaiun, bukti adanya JAUHAR AWWAL RASULULLAH atau samudra hidup, pohon nyawa, wadah amal, kubur sejati, hidupnya segala rupa, seluruh isi tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, asalnya yaitu dari cahaya yang satu, yaitu JAUHAR AWWAL RASULULLAH atau RUH ILMU RASULULLAH utusan Maha Agung.
DZAT atau NURULLAH yang menjadikan Alam Dunia dan isinya, TIDAK PISAH dan TIDAK JAUH, DZAT dan SIFAT.
Sifat = Jauhar Awwal Rasulullah = Hakikat Muhammad [Ruh Ilmu Rasulullah] atau disebut SEJATINYA SYAHADAT, yaitu syahadatnya DZAT dan SIFAT, Ahadiat dan Wahdat, sudah tidak pisah, seperti gula dan manisnya.
Ibarat :

DZAT adalah MANIS, SIFAT adalah GULA
DZAT adalah WANGI, SIFAT adalah BUNGA

DZAT dan SIFAT adalah PASTI, TIDAK AKAN ADA SIFAT, JIKA TIDAK ADA DZAT, begitupun sebaliknya.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH yaitu cahayanya Allah. yaitu Nur Ilmu Rasulullah sinarnya yang empat rupa dari Jauhar Awwal Rasulullah. Dzat Sifat-Nya Allah sifatnya sangat halus, mengeluarkan cahaya empat rupa :
MERAH, KUNING, PUTIH, HITAM disebut NUR ILMU RASULULLAH [Nur Muhammad] yaitu Hakikat Adam bibit untuk Alam Dhohir atau Asmanya Allah,
yang empat menjadi lafadz :
ALIF – LAM – LAM – HA, tadinya adalah Asma Allah. yaitu Alam DZAT yang pertama disebut, dua SIFAT, barulah ASMA nomor tiga, kenyataannya sesudah adanya NUR ILMU RASULULLAH atau Hakikat Adam, yang tiga bergulung jadi satu :
Allah – Muhammad – Adam = “ Wa nahnu aqrobbu ilaihi min hablil wariid “
Sifat -sifat diri jika di telusuri dari kenyataan DZAT, SIFAT, dan ASMA Allah, yang keempatnya AF’AL Maha Suci, yaitu Alam Ilmu, API – ANGIN – AIR – BUMI disebut ARWAH yang menjadikan RUH dan DARAH, bibit Adam Manusia, jadi, Api, Angin, Air, Bumi adalah dari sinarnya Nur Ilmu Rasulullah, Af’alnya Allah Yang Maha Agung, buktinya kekuasaan Allah adalah adanya Alam Dunia dari Nur Ilmu Rasulullah cahaya yang empat.
Cahaya MERAH sinarnya menjadi API
Cahaya KUNING sinarnya menjadi ANGIN
Cahaya PUTIH sinarnya menjadi AIR
Cahaya HITAM sinarnya menjadi BUMI
Dari cahaya empat rupa itu, dihidupkan oleh sinarnya Matahari, sifatnya yaitu terang, jika di dunia tidak ada terang, manusia dan tumbuhan akan mati, akan tetapi Matahari tadi tidak akan terang, jika tidak terkena sinar Dzat Sifat-Nya, tidak ada bedanya lahir dan baathin, di dhohirnya menjadi nyata, API, ANGIN, AIR, BUMI menjadi Asma Allah yaitu ALIF – LAM – LAM – HA. Matahari bisa terang, yaitu yang menjadi Tasjidnya, yang menghidupkan semua, di dunia juga pasti ada Asmanya Yang Maha Agung, satu cukup untuk semua, sifatnya meliputi.
adalah nyatanya jasad manusia berasal dari bumi, air, api, angin, syariatnya terasa, semuanya dari proses nabati dan hewani, tanaman yang ditanam menjadi besar karena adanya unsur bumi, api, air, angin, tidak ada unsur yang kurang satupun. Kejadian di diri manusia, yaitu kulit, daging, tulang, sumsum menjadi nafsu empat rupa :
1. Nafsu Amarah dari DAGING hawanya keluar melalui TELINGA
2. Nafsu Lawammah dari SUMSUM hawanya keluar menuju MATA
3. Nafsu Sufiah dari KULIT hawanya keluar menuju MULUT
4. Nafsu Muthmainah dari TULANG hawanya keluar menuju HIDUNG.
diwajibkan oleh Maha Suci, manusia harus ikhtiar, harus mencari ilmu, untuk mengetahui asal, asal jasad waktu di Qadim, yaitu yang empat tadi. Nur ilmu Rasulullah, MERAH, KUNING, PUTIH, HITAM, asalnya jasad manusia, jika manusia sudah kenal kepada empat perkara, dengan yakin dan di dasari ilmu yang haq, itulah Mitsal, yaitu ma’rifat kepada alam tadi
adalah sudah ma’rifat kepada Dzat Sifat Yang Agung, yaitu Jauhar Awwal Rasulullah, sejatinya syahadat, sejatinya Iman, bibit nyawa semuanya. artinya manusia sempurna [mukmin sejati] sudah sampai kepada asal, yaitu samudra hidup, kesempurnaan nyawa, pasti bisa pulang kepada asalnya yang dahulu, asal dari Allah kembali kepada Allah, Allah sudah janji, kepada siapapun manusia yang tahu, yang ma’rifat kepada Dzat Maha Suci, sewaktu di dunia, terus sampai ke Akhirat, tidak akan pisah dengan Dzat Yang Maha Agung, jika buta waktu di dunia, maka di Akhirat akan lebih buta lagi, tidak akan bertemu dengan terang, gelap sudah pasti karena tidak bisa melihat Dzat Yang Maha Agung, sewaktu gelap sudah pasti Neraka, karena di dunia tidak mencari ilmu dan ibadah, sibuk mengantar NAFSU DHOHIR.
Ibarat : DZAT adalah WANGI, SIFAT adalah BUNGA, DZAT adalah MANIS, SIFAT adalah GULA, TIDAK PISAH dan TIDAK JAUH, Syahadatnya Dzat dan Sifat, Ahadiyat dan Wahdat.
DI LUAR NAMA :
DZATTULLAH yaitu disebut Alam, inilah yang memangku atau menopang Alam Dunia
SIFATULLAH adalah Nur Ruh Ilmu Rasulullah seluas langit, tidak ada yang keluar dari DZAT SUCI, semuanya terliputi oleh satu cahaya.
ASMATULLAH adalah Api, Air, Angin, Bumi, Asma yang Agung. Satu, cukup untuk semua, Api, Air, Angin, Bumi menjadi huruf ALIF – LAM – LAM – HA.
AF’ALULLAH yaitu hawa yang menghidupkan bumi dan isinya
DI DIRI MANUSIA :
DZATULLAH nyatanya di diri, buktinya adalah sekujur badan, yang memangku keadaan, segala hal yang menyangkut keadaan pada wujud
SIFATULLAH nyatanya adalah rupa, rupa manusia tidak ada yang sama dengan manusia lainnya, hanya satu di alam dunia, tawilnya adalah ALLAH HANYA SATU.

ASMATULLAH yang bukti di badan adalah : KULIT, DAGING, TULANG, SUMSUM, menjadi lafadz Asma Allah yaitu : ALIF – LAM – LAM – HA.
AF’ALULLAH yaitu geraknya wujud, semuanya diringkas kepada yang empat rupa, nyatanya Dzatullahi, yaitu perkataan, sebab perkataanlah yang menjadikan semuanya, yaitu keramaian Alam dhohir, adanya kemauan manusia, sehingga menjadi bukti dengan adanya gedung, rumah, mobil dll karena adanya bibit dari Dzat.

Dari Ibn Abbas r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. sabdanya : “FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA APA YANG DI CIPTAKAN ALLAH, TETAPI JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH..”
[HR Abu Syeikh]

Abu Dzar r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. sabdanya : “FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA MAKHLUK ALLAH, DAN JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH, KARENA YANG DEMIKIAN MENYEBABKAN KAMU BINASA [DALAM KESESATAN]”
[HR Abu Syeikh]

” FIKIRKANLAH OLEHMU SIFAT ALLAH DAN JANGAN KAMU MEMIKIRKAN AKAN DZAT-NYA. ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU ”
[Al-Fushilat : 54]

”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah], yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian. Tak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Ali-Imran:18]
“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”
Semua umat Allah wajib marifat, harus tahu kepada iman sejati, iman yang satu yaitu kepada DZAT MAHA SUCI.
SIFAT Laisa kamishlihi syaiun adalah JAUHAR AWWAL RASULULLAH, TANDA KENYATAAN ADANYA DZAT.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH isinya adalah RUH ILMU RASULULLAH, yang Awwal Akhir di ciptakan oleh Allah.
Ainal yakin dengan Ilmu, supaya bisa pulang, pulang kembali kepada Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Jauhar Awwal Rasulullah, inilah jalan pulang yang sempurna.
“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain”
Pertama hal ibadah adalah tahu kepada sejatinya hidup, sifat hidup harus di dapat, diri yang mana yang harus di cari? Apakah jasmani yang terlihat? Yang harus dicari adalah badan Ruhani atau Jiwa. Sejatinya syahadat adalah bibit segala rupa yaitu Jauhar Awwal [Ruh Ilmu Rasulullah] Samudra Ilmu dan Kehidupan.
“Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi”
Melihat Hakikat Allah Ta’ala di Dunia oleh mata Baathin. Bila Qolbu manusia sudah dianugrahi Sifat Nur Ilmu Rasulullah, Qolbunya bisa dipakai untuk tempat melihat kepada Allah Ta’ala melalui mata Baathin karena sudah diberitahu oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah, sehingga bisa merasakan ni’mat dari Dunia sampai di Akhirat, sudah tidak merasakan berpisah dengan Sifat Nur Ilmu Rasulullah, lantaran wujud itu. Siang dan malam Qolbu ditempati oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah untuk melihat Allah Ta’ala, melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma’rifat, Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Tasawuf.
“Ru’yatullohi Ta’ala bil akhiroti bi’ainil arsi”
Melihat Allah di Akhirat, tentu sama mata, tidak salah lagi, sebab sudah bersatu seperti gula dan manisnya.
Wajib hukumnya mencari tahu diri, diri yang sejati, diri manusia, sebenar-benarnya diri.

Cahaya empat rupa adalah :
NARUN [Merah]
HAWAUN [Kuning]
MA’UN [Putih]
TUROBUN [Hitam]

yaitu badan ruhani [jiwa], inilah yang harus ketemu, jasmani harus hilang, tapi jangan hilang tanpa sebab, hilangnya harus terganti oleh cahaya empat rupa [Sifat Nur Ilmu Rasulullah] hilangnya badan jasmani, harus terganti oleh badan ruhani.
Jas artinya adalah baju, mani adalah badan ruhani, baju adalah bungkus, bungkusnya ruhani, manusia tidak akan mendapatkan hasil,
jika hanya mengetahui badan nyata saja, harus di buka dulu bajunya, supaya bisa ketemu dengan isinya, badan jasmani adalah hijabnya kepada Yang Maha Suci, jika tidak hilang wujudnya dulu, maka isinya tidak akan ketemu,
diibaratkan kucing, maksud kucing hendak ngintip tikus keluar dari liangnya, tapi kucingnya diam di depan liang tikus, akhirnya tikus malah mati karena tidak bisa keluar, tentu saja tidak akan hasil, kucing diibaratkan jasad, tikus ibarat yang Latif, tidak akan ketemu jika rasa jasad tidak hilang.
Jika kucing menginginkan agar tikusnya keluar dari liang, tentu saja kucing harus pergi menjauhi liang tikus, barulah tikusnya keluar, sama seperti di diri manusia, jika ingin ma’rifat kepada Dzat Allah Ta’ala, harus merasa pasti, merasakan bahwa manusia tidak memiliki jasad. Rasa jasmani harus hilang, terganti oleh Rasa Rasulullah
[SIFAT NUR ILMU] > Ladun Qolbin Salim > Ladunni > Hati yang selamat. Rasa ni’mat yang sejati [Ni’mat Islam, Ni’mat Iman] karena saking ni’matnya melihat kepada Dzat Maha Agung, tentu merasa hilang dunia dan jasmani [Iman Akhirat, Rasa Akhirat]
“Waman aroffa nafsahu, faqod aroffa robbahu… man aroffa robbaha, faqod jahilan nafsah”
“Lahaula wala quwata, illa billahil aliyil ‘adim”…
Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya, barang siapa mengenal Tuhannya pastilah bodoh dirinya …
Shalat sejatinya adalah ketika waktu Nafi Isbat bergulung, menerapkan Muhammad af’al. Ta’udz dan Bismillah untuk berlindung kepada Yang Maha Agung, disinilah adanya kebersamaan, yang empat bersatu, hilangnya dunia dan wujud, bertemu dengan wujud Agama, barulah dikatakan Islam jika sudah ketemu kepada sejatinya Agama atau Ruh Samawi [Fitrah Agama] yaitu hidup manusia, tentu wajib hukumnya, untuk tahu kepada sejatinya Agama, agar ibadah menjadi sah, tahu bibit rukun Islam, rukunnya yang empat di badan :
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Penciuman
4. Perkataan.
yang ke lima adalah Rasa Rasulullah [penguasa RASA] jadi hakikatnya shalat adalah wujud rupa diri.

“Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, 
“Shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.

IHKROM – MI’RAJ – MUNAJAT – TUBADIL 
Artinya adalah shalat sejati, syariatnya ada di Mekkah, ketika orang pergi Haji, hakikatnya ada di hati.

IHKROM : Bersiap-siap, menyiapkan tekad sebelum pergi, ibarat burung niat ingin terbang, sayapnya sudah dibentangkan tapi tidak dikepakkan.
MI’RAJ : Jika sudah dengan terbang dan melayang, sudah meninggalkan Alam Dunia, lupa kepada Alam Dhohir.
MUNAJAT : Sudah mau sampai ke Alam Baathin.
TUBADIL : Sudah sampai kepada yang yang dituju, yaitu Baitullah suci, Baitullah sejati, bukan di Utara, bukan di Selatan, tidak di Timur dan di Barat [Billa haefin, Billa makanin] inilah yang di maksud hakikat Ka’bah atau Kubah [rongga dada manusia] Itiqod [tidak terkena rusak] kiblat nyawa yang sempurna yaitu Dzat Yang Maha Agung, sifatnya cahaya padang halus, terang benderang atau Jauhar Awwal Rasulullah, samudra ilmu dan hidup, kiblat waktu wafat.
Bertemunya ASHHADU = Allah dan WA ASHHADU = Diri Manusia [Ghoib]
Sebab itu kiblat wafat wajib harus di ketemukan, jika tidak ketemu dikhawatirkan jadi gentayangan, nyawa tidak sampai kepada asalnya dahulu, pantas adanya Neraka yaitu siksaan diri, sebab tidak menemukan jalan pulang yang sempurna, mumpung di dunia harus bersungguh-sungguh mencari jalannya wafat, agar nyawa bisa pulang,
IBADAH : sudah ada patokan yaitu Al-Qur’an dan Hadist, sudah mencukupi, tinggal bersungguh-sungguh menghafal dan prakteknya, kalau jalan mati, itu lain aturan, itu adalah penghujung, ujungnya harus wafat, yang ibadah dan yang tidak, semua manusia akan mengalami kematian, syariatnya sama, ada sekaratnya…
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali r.a. menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan HAKIKAT KEIMANAN “.
Jika manusia yang ma’rifat, mutajilah sudah pasti, sebab menjirimkan Allah terlihat oleh mata kepala, yang berarti ada dua diri, Allah adalah NAFI ISBAT, ada Isbat hilang Nafi, ada Nafi hilang Isbat, Isbat adanya pasti, wujud jasmani, Nafi adanya Jiwa, untuk Nafi Isbat-nya harus tidak ada.
SIFAT NUR ILMU RASULULLAH adalah JAUHAR LATIF : Cahaya halus yang menghidupkan wujud manusia, matahari dalam wujud jagad shagir, yang tidak terlihat oleh mata kepala, dan hanya bisa di lihat dengan MATA BAATHIN.
AL – ILMU NURULLAH > Ilmu Sifat untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasulullah, Ilmu Sifat tidak akan samar, wangi bunga rose tidak akan tertukar dengan wangi bunga melati. ‘Ain > Iliyin tempat tertinggi yang bisa di capai oleh orang berilmu. Ilmu Ladunni atau Ilmu Sifat, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses kegiatan pengamalan, mulai dari mandi, shalat, wirid, baca Qur’an dll. Melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Mari’fat.
Tuhan hanya bisa dikenal jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali. Sifat Nur Ilmu adalah kendaraan bagi baathin untuk sampai ke sisi-Nya, melalui Sifat Rasa Rasulullah. Tidak ada manusia yang bisa langsung ma’rifat kepada Allah Ta’ala, kecuali Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam melihat langsung dan berdialog dengan Allah Ta’ala.
Sifat Nur Ilmu ini akan menerangi qolbu, baathin, hati dan ruh, Sirr nya berperan menyingkap tabir hakikat dan mengenal akan Allah Ta’ala. Hakikat akan diketahui apabila seseorang giat mendalami pengetahuan tentang hakikat melalui proses pengamalan, khalwat atau tirakat, muqarobah, mandi, sholat, wirid melalui bimbingan
Guru Mursyid > Allah, Ilmu Ma’sum > Ilmu Syafa’at yang bisa memisahkan unsur Sifat Malaikat [NURR] dan unsur Sifat Jinn [API] di dalam darah (Sifat darah ), seorang guru wajib menguasai 12 pan Ilmu, jika ilmunya tidak ma’sum, maka dikhawatirkan bangsa mahluk halus akan ikut-ikutan nyusup atau masuk ke dalam pengamalan, sehingga seseorang itu tidak merasa bahwa di dalam dirinya sudah di tempati oleh Jinn, merasa berilmu padahal Jinn yang mengendalikan.

Sifat Nur Ilmu adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya dari kegelapan serta membawanya untuk menyaksikan sesuatu dalam keadaannya yang asli. Apabila cahaya atau latifah di diri sudah membuka tirai dan cahaya terang telah bersinar, maka mata baathin dapat memandang kebenaran dan keaslian yang selama ini disembunyikan oleh alam nyata. Semakin terang cahaya Illahi yang diterima oleh hati akan menambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya. Pengetahuan yang diperoleh melalui pandangan mata baathin yang bersumber dari Cahaya Awwal atau Jauhar Awwal Rasulullah atau Ruh Ilmu Rasulullah inilah yang dinamakan Ilmu Ladunni atau Ilmu Sifat atau Ilmu Syafa’at atau Ilmu Shalat

*Sholat Seorang Sufi*

بسم الله الرحمن الرحيم

Air Mutlak:
Penyucian hanya bisa dilaksanakan dengan Air Mutlak. Kejernihannya meliputi setiap lapisan alam. Asal air adalah satu pada tahap Yang Ghaib, apabila ia menyatakan penzahirannya maka timbullah pelbagai warna yang terpelihara dari asal yang satu itu. Inilah Air yang hakiki. Bersucilah dengannya di dalam SirulLah.
Hadath:
Makna hadath dari kacamata kesufian ialah wujud selain Allah ( wujud ghairuLlah). Hadath ini mesti dibersihkan dengan Air Mutlak di dalam SirulLah. Apabila telah bersuci dengan air tersebut, maka barulah layak untuk memasuki pintu Majlis Tuhan itu. Jika masih lagi ada wujud ghairulLah, maka belumlah lagi dikatakan bersuci dan masih menanggung hadath. Bersihkanlah diri dengan Air Mutlak dengan sebersih-bersihnya sehingga tiada lagi yang kelihatan melainkan Allah Yang Maha Esa sahaja.

Hadath Kecil:
Menghilangkan hadath kecil dari sisi kerohanian ialah:
Fana’ dalam 7 sifat:

1. Qudrat
2. Iradat
3. Ilmu
4. Hayat
5. Sama’
6. Bashar
7. Kalam
Hadath Besar:
Menghilangkan hadath besar dari sisi kerohanian ialah:
Memfanakan diri seluruhnya. Apabila telah bersih suci daripada hadath besar ini barulah dikurniakan bisa ‘melihat Allah’ dengan segala KeagunganNya dan KemulianNya. Bermandilah dengan Air Mutlak ini dengan niat:

• Laa fa’il illallah – tiada yang berbuat melainkan Allah
• Laa hayya illallah – tiada yang hidup melainkan Allah
• Laa maujuda ilallah – tiada yang maujud melainkan Allah

‘Man arafa nafsahu, faqad arafa Robbahu, man arafa Robbahu, fasadal jasadu’ – Siapa yang mengenal dirinya rata-rata, kenallah dia Tuhannya, siapa yang kenal Tuhannya, fanalah jasadnya, sehingga basah kuyup seluruh dirimu dengan Air Mutlak itu oleh pentajallian Al-Haq, dan dengan Air Mutlak itu jua dirimu terserap dalam CintaNya yang mendarah-daging dalam seluruh tubuhmu – “Ke mana engkau memandang, di situlah WajahKu”.
Sholat diambil daripada perkataan Washlat (ertinya tersangat hampir). Sholat daripada fahaman sufi maknanya ‘Pertemuan’ atau lebih tepat lagi ialah ‘Penyatuan’. Manakala wudhu maknanya ‘Perpisahan’.
Solat digolongkan kepada 2 bahagian:
1. Sholat Syari’at
2. Sholat Hakikat (Da’im)

Sholat Syari’at:
Solat ini mempunyai tatacara dan hukum-hukum tertentu. Kiblatnya mengarah kepada Ka’abah di dalam Masjidil Haram. Tertakluk kepada lima waktu sehari semalam. Wajib dikerjakan dengan seluruh tubuh yang zahir.
Sholat Hakikat:
Sholat Hakikat atau sholat Da’im adalah sholat yang berkekalan – tidak putus dan tidak tertakluk kepada waktu dan tempat, tidak ada perbuatan, tidak ada bacaan. Da’im adalah juga namanya Wustha ertinya yang di tengah-tengah, maka ianya dilaksanakan hanya pada hati. Namun begitu, Sholat Da’im atau Wustha ini tidak boleh dipisahkan dengan Sholat Syari’at. Mengerjakan sholat syari’at sahaja tanpa hakikatnya adalah pincang. Dan begitu pula mengerjakan solat hakikat sahaja tanpa syari’at adalah binasa. Justru itu, Solat Da’im ini harus disepadukan dengan Sholat Lahiriyah.
Intisari Solat Da’im | Wustha
Kiblat:
Tidak di Timur dan tidak pula di Barat. Ianya menghala dari tengah (Roh) menghadap ke Wajah Allah (SirulLah).

Berdiri:
Berdiri (mula) di Alam Mulki dalam takluknya Alif. Sebelum jatuhnya niat, Alif itu wujud memakai 7 sifat ma’ani: Wujud, Hayat, Ilmu, Qudrat, Iradat, Sama', Bashar dan Kalam.

Niat:
Maksudnya dari sisi kesufian: melenyapkan diri dari diri. Dalam takluk rahsianya Alif yakni Titik Hati. Tujuan niat ini adalah untuk memulangkan kesemua sifat amanah kepada Al-Haq.Beradanya niat ialah di antara Alam Mulki dan sempadan Alam Malakut. Niatnya ialah:

La maujud
La haiyu
La ‘alimu
La qaadiru
La muridu
La sami’u
La bashiru
La mutakalimu
Fil haqiqati illaLah.

(tidak ada yang maujud, tidak ada yang hidup, tidak ada yang tahu, tidak ada
yang kuasa, tidak ada yang kehendak, tidak ada yang dengar, tidak ada yang
lihat, tidak ada yang berkata-kata pada haqiqatnya melainkan Allah)

Takbiratul Ihram:
Di sini maksudnya, berpisah dari Alam Mulki dan fanalah hamba ketika mengucapkan ‘Allahu Akbar’. Hanya sifat ‘yang menyembah’ sahaja yang tinggal sebagai penzahiran wujud Allah – ‘Yang Disembah’. Ia bergerak dengan gerak Allah. Ia berkata-kata dengan kata-kata Allah. Takluknya dalam rahsia Titik bagi Alif – ‘Tiada’. Seperti kata Abu Yazid Bustami, “Ariftu Robbi bi Robbi’ (Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku).

Membaca Fateha:
Ketika membaca Fateha, terbukalah Pintu Alam Malakut bagi ‘yang menyembah’. Dia menyaksikan kalimah Allah melalui penyingkapan (syuhud) akan firman Allah; “Malikiyauu middin” di dalam Kerajaan Allah Ta’ala. Dari takluknya ‘Tiada’ ia menjadi Titik dari NurNya (Nur Muhammadi). Dengan Nur Muhammadi inilah ‘yang menyembah’ mengenal dirinya – ‘man arafa nafsahu’ - sebagai ‘RohNya’ yang pernah dihimpunkan di Alam Lahut semasa Adam baru sempurna kejadiannya, yakni ketika Jibril menepuk tulang sulbi Adam, maka keluarlah semua roh anak cucu Adam dari tulang sulbi Adam itu. Adapun ‘RohNya’ itu pada hakikatnya adalah satu jua, iaitu daripada SirulLah. Roh anak cucu Adam itu hanyalah bayangan (menumpang) dari RohNya. Tanpa hadirnya Nur Muhamadi, ‘yang menyembah’ tak mungkin bisa berhadap di depan Allah Ta’ala. Dengan perwujudan Nur Muhammadi inilah maka ‘yang menyembah’ berdialog dengan Allah Ta’ala secara langsung “Kepada Engkaulah kami sembah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tujukilah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan mereka yang Engkau berikan ni’mat, bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai, dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” Maka diAminkan akhir Fateha itu oleh para malaikat dari setiap 7 lapis langit iaitu dari: Alam Mulki, Alam Malakut, Alam Jabarut, Alam Bahut, Alam Lahut, Alam Hahut dan yang tertinggi sekali ialah Alam Al-Insan yang di sinilah kemuncaknya Sholat itu. Adapun maksud ‘jalan yang lurus’ bagi kalangan sufi ialah Mi’raj. Sebagaimana sabda Nabi saw; “Sholat itu adalah mi’raj bagi mukmin”. Tujuan Mi’raj itu ialah Penyatuan, yakni kembalinya ‘yang menyembah’ kepada ‘Yang Disembah’.

Rukuk:
Takluknya kepada huruf 'Lam' terzahirnya dari Alif - 'yang menyembah' menampakkan 'Yang Disembah'. Alif adalah Kanzun Mahfiyyan (Yang Tersembunyi). Yang Tersembunyi ingin dikenali maka dizahirkan Lam sebagai tabirnya. Sabda Nabi saw, "Dirikanlah sholat seolah-olah kau melihat Allah". Dan kata para Ariffin, "Siapa yang kenal dirinya, kenallah Tuhannya." 'Yang menyembah' dinatijahkan seperti 'angin', manakala tatkala 'yang menyembah' pada posisi berdiri tadi, natijahnya adalah 'api' - fana dalam wujud. Api itu sifatnya membakar - yakni melenyapkan keakuan diri. Pada tahap 'rukuk' ini, 'yang menyembah' berada dalam suatu tarikan yang tersangat kuat dari Nur Muhammadi. Justeru itulah ianya dinatijahkan kepada angin (tunduk dan menderu). 'Yang menyembah' ditarik masuk ke dalam Alam Jabarut dan berpisah dari Alam Malakut. Justeru itulah kata para Ariffin, "Barangsiapa mencari Tuhan di luar dirinya, nescaya akan sesat."Pada tahap ini 'yang menyembah' melepasi kalbunya dan yang tinggal padanya adalah RohNya yang akan naik ke lapisan yang lebih tinggi untuk kembali kepada Tuhan. Alam Jabarut adalah sempadan yang menghubungkan Perbendaharaan Wujud (batas larangan yang tak bisa ditembusi melainkan kepada Nur Muhammadi) di antara yang 'maujud' - 'yang menyembah'. 'Yang menyembah' mengenal dirinya di Alam Jabarut, maka tersingkaplah baginya seluas-luasnya wujud Allah tanpa tabir bahawa 'yang menyembah' telah bersatu dengan 'Yang Disembah'. Maka bertasbihlah 'yang menyembah', "Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dengan sifat kepujiannya."
Harap maklum, jika difahami pengertian bersatu dengan 'Yang Disembah' yang dimaksudkan di sini bukanlah mengambil kefahaman 'Hulul' sebagaimana yang diyakini oleh Mansur Al-Hallaj. Yang lebih ditekankan di sini ialah Wahdatus-Syuhud (Kesaksian Penyatuan)
I'tidal:
'Yang menyembah' adalah yang dibangkitkan - ‘Yang menyembah’ masuk dalam ‘Pintu Kematian.’ “Matikanlan dirimu sebelum mati”. Di sini juga ertinya ‘waqaf’ (sementara) dalam Solat.

Sujud Awal:
Takluknya kepada huruf 'Lam' - juga huruf 'Mim'. Sabda Nabi saw, "Aku dizahirkan ke dunia dalam keadaan sujud". 'Yang menyembah' dinatijahkan kepada air. Air adalah sumber kejadian Alam Mulki. Arasy Tuhan berada di atas air. Maka 'yang menyembah' dinatijahkan kepada air, kerna di sinilah 'yang menyembah' sampai di Alam Bahut. Alam Bahut adalah Pembatasan Terakhir Segala Penzahiran, atau seumpama ungkapan Syekh Akbar Ibu Arabi; Syajaratul -Kaun (Pohon kejadian) atau sebutan yang sering juga disebut - Sidrahtul Muntaha. Pada tahap ini 'yang menyembah' adalah RohNya yang di dalam Sirr. Sabda Nabi saw ketika mi'raj baginda melihat Wajah Allah, "Aku tidak tahu di manakah aku berada". Pada tahap ini juga 'yang menyembah' menyerap kepada 'Yang Disembah' seolah-olah 'yang menyembah' itulah 'Yang Disembah,' 'Yang Disembah' itulah 'yang menyembah, - yang pada hakikatnya wujud terurai dalam fana fil sifat dan lebur dalam fana fil zat – ‘Melihat Allah dengan Allah’ – maka ‘yang menyembah’ diberikan pengetahuanNya – Ana al-Haq (Akulah Yang Benar’). Dari sisi tahap ini, lihatlah kepada ‘Basmalla’. Hanya ‘Ba’ dalam Basmallah sahaja yang tercantum dengan Alif. Sabda Nabi saw; “Seluruh kitab Al-Qur’an itu terkandung dalam Al-Fateha. Dan seluruh Al-Fateha itu terkandung dalam Basmallah. Dan Basmallah terkandung dalam huruf ‘Ba’. Dan rahsia ‘Ba’ itu adalah Titik di bawahnya” – Inilah yang dimaksudkan oleh Syekh Ibnu ‘Arabi Wujud Kesatuan – Wahdatul Wujud. Maka bertasbihlah ‘yang menyembah’, “Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujian-Nya.”

Duduk Di Antara Dua Sujud:
Takluknya pada huruf ‘Ha’ besar dan juga ‘Ha’ kecil (maksudnya selepas huruf Jim). ‘Yang Menyembah’ telah pun dikurniai ‘Baqa’ setelah fana fil sifat dan fana fil zat. Dengan dikurniai ‘Baqa’, barulah ‘yang menyembah’ dapat memasuki Perbendaharaan Rahsia Tuhan – Ilahiyat - pada sujud yang akhir nanti, sebagaimana diistilahkan oleh para Ariffin melalui tiga tahapan; Ahadiyat, Wahdat dan Wahidiyat. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Lahut – Alam Tiada, yang tiada sesuatu pun yang tercipta, tiada awal dan akhir, ‘yang menyembah’ menyaksikan kekosongan tanpa perbatasan, dan disinilah awalnya Diri yang kemudiannya dizahirkan sebagai Adam. Di kalangan sufi, ianya juga diistilahkan ‘Negeri ‘Adami’. Diri (‘yang menyembah’) dinisbahkan kepada air yakni Air Mutlak, atau kata lainnya – inilah asal-usul manusia dari alam tiada ‘La’. Pada tahap ini juga ‘yang menyembah’ adalah di dalam SirrNya – RohNya dalam keghaiban Nur Muhammadi. Haqiqat RohNya adalah Nur Muhammadi. Di sinilah ia bermunajat; ‘Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah darjatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku.”

Sujud Akhir:
Takluknya pada rahsia huruf ‘Ha’ – yang tak kelihatan atau bunyi dihujungnya ‘Hu’ dan juga huruf ‘Mim’. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Hahut’ pada nisbahnya air yang di bawah ‘Arasy Tuhan – tersangat hampir. Yang tinggal pada ‘yang menyembah’ adalah SirulLah. Di dalam Sirr, inilah Aku. Kata Ahli Sufi, ‘Air dalam gelas, tak dapat dibedakan lagi. Air itulah gelas. Gelas itulah air.” ‘Yang menyembah’ itulah ‘Yang Disembah’ dalam gedung makrifat, bukan dalam gedung syari’at, gedung thariqat dan gedung haqiqat. Fahamkanlah ini ‘Yang menyembah’ tidak bisa menjadi ‘Yang Disembah’ dalam erti haqiqat. Ini hanya pada makrifat semata-mata. Ingatlah, bukan fahaman hamba yang bertukar menjadi Tuhan. Camkan air di dalam gelas, bersatu dalam kejernihan. Lihatlah pada ‘ombak’- ombak hanya pada nama yang jauharnya adalah air yang bergelora. Kata Al-Hallaj, “Tiada yang di dalam jubahku melainkan Allah” hanya dimengertikan sebagai ucapan Irsyadat. Dan juga sabda Nabi saw; “Aku melihat Allah pada rupa seorang pemuda yang tersenyum”. Di sini ‘yang menyembah’ terus bertasbih, “Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujianNya.”
Pada sujud akhir inilah, ‘yang menyembah’ memasuki Wilayah Ilahiyat: Ahadiyat, Wahdat dan Wahidiyat.
1. Ahadiyat – Zat Mutlak atau Zat wajibal wujud
2. Wahdat – Zat Yang Maha Esa
3. Wahadiyat – ILAH - Zat yang maha kaya daripada tiap-tiap sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain memerlukannya. Zat ingin dikenali sebagai Kanzun Mahfiyyan. Di sinilah terbitnya ungkapan ‘Kun’ jadilah maka jadilah ia.

Duduk Tahiyat Akhir:
Takluknya pada huruf Dal. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Al-Insan, dinisbahkan kepada tanah ketika ia duduk – dalam kesempurnaan. Dia yang mengenal dan Dialah yang dikenal pada akhirnya. Dialah yang turun dan naik dalam mi’raj. “Rahsia Insan RahsiaKu, RahsiaKu Rahsia Insan” Di Alam Insan, ‘yang menyembah’ diliputi dengan Wujud, Ilmu, Nur dan Syuhud, maka Zat adalah rahsianya, Sifat adalah ruhnya, Asma’ adalah qalbunya dan Af’al adalah tubuhnya. Di sinilah ia mengucapkan Selamat sejahtera (baca: tahiyat) ke atas Nabi dan rahmat Allah dan keberkatanNya. Juga kepada hamba-hamba yang solihin sekaliannya.Dialah yang menyaksi dan dialah yang naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.

Salam:
“Salamun qaulam mir-robbir- rohiim”. Inilah salam ahli syurga. Syurga inilah yang dinikmati oleh ‘yang menyembah’, yakni syurga yang di dalamnya tanpa bidadari, sungai, buah-buahan dan pepohonan. Di syurga inilah ‘yang menyembah’ terlena memandang Wajah Allah.

S E K I A N