Showing posts with label Ehwal Kejadian. Show all posts
Showing posts with label Ehwal Kejadian. Show all posts

Abu Bakr as Siddiq (II)


1. Allah akan menunjukkan kemuliaan-Nya kepada umatnya secara umum, tetapi Dia akan menunjukkan kepada Abu Bakr dalam cara yang istimewa.
2. Tidak sekali-kali matahari naik atau turun pada seseorang, selain daripada Nabi, melainkan Abu Bakr .
3. Tidak pernah apa-apa yang diturunkan kepada aku bahawa aku tidak sampaikan ke dalam hati Abu Bakar.
4. Tiada seorang pun yang aku terhutang dan tidak dibayar balik kecuali Abu Bakar, semuga Tuhan akan membalasnya kepadanya pada hari kiamat.

Dari Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar ²:
Pada zaman Nabi "" kami tidak mengenali sesiapa yang lebih mulia daripada Abu Bakar as-Siddiq, kemudian Umar, kemudian Uthman.
Bukhari juga meriwayatkan dari Muhammad ibn al-Hanafiyya "" ( anak lelaki Ali): Saya bertanya kepada bapa saya, "Siapakah orang yang terbaik selepas Rasulullah " i "?" Dia berkata, "Abu Bakar." Saya bertanya, "Siapakah yang kemudian?" Dia berkata, "Kemudian Umar." Saya takut dia akan mengatakan Uthman kemudiannya, jadi saya berkata, "Kemudian anda?" Dia menjawab, "Saya hanya orang biasa."

Abu Bakr as Siddiq


Abu Bakar as-Siddiq """ (Abdullah ibni Abi Qahafah) adalah sahabat yang terbaik dan yang paling dicintai Nabi "". Walaupun Tuhan memuliakan Abu Bakar dengan pelbagai cara yang tidak terkira banyaknya, namun selayaknya darjat bagi beliau yang mungkin " Saat dan ketikanya beliau bersama Rasulullah ""apabila mereka berada di dalam gua."

Penciptaan Nur Muhammad (s.a.w.)


Penciptaan Nur Muhammad (s.a.w.)

Suatu hari Sayedena Ali, karam Allahu wajhahu, misanan dan menantu Nabi Suci s.a.w. bertanya, “Wahai Muhammad, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon katakan padaku apa yang diciptakan Allah Ta'Ala sebelum semua makhluq ciptaan?” Berikut ini adalah jawaban nya yang indah :

Sesungguhnya, sebelum Rabb mu menciptakan lainnya, Dia menciptakan dari Nur Nya nur Nabimu, dan Nur itu diistirahatkan haithu mashaAllah, dimana Allah menghendakinya untuk istirahat. Dan pada waktu itu tidak ada hal lainnya yang hadir – tidak lawh al-mahfoudh, tidak Sang Pena, tidak Surga ataupun Neraka, tidak Malaikat Muqarabin (Angelic Host), tidak langit ataupun dunia; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jinn atau manusia atau malaikat– belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.

Kemudian Allah – Subhan Allah – dengan iradat Nya menghendaki adanya ciptaan. Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat bagian. Dari bagian pertama Dia menciptakan Pena, dari bagian kedua lawh al-mahfoudh, dari bagian ketiga Arsy.

Kini telah diketahui bahwa ketika Allah menciptakan lawh al-mahfoudh dan Pena, pada Pena itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul adalah sejauh dua tahun perjalanan. Allah kemudia memerintahkan Pena untuk menulis, dan Pena bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?” Allah berkata, “Tulislah : la ilaha illAllah, Muhammadan Rasulullah.” Atas itu Pena berseru, “Oh, betapa sebuah nama yang indah, agung Muhammad itu bahwa dia disebut bersama Asma Mu yang Suci, ya Allah.”

Allah kemudian berkata, “Wahai Pena, jagalah kelakuan mu ! Nama ini adalah nama Kekasih Ku, dari Nurnya Aku menciptakan Arsy dan Pena dan lawh al-mahfoudh; kamu, juga diciptakan dari Nur nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun.” Ketika Allah S.W.T. telah mengatakan kalimat tersebut, Pena itu terbelah dua karena takutnya akan Allah, dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup/terhalang, sehingga sampai dengan hari ini ujung nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung. Maka, jangan seorangpun gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci, atau menjadi lalai dalam mengikuti contoh nya (Nabi) yang cemerlang, atau membangkang/meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.

Kemudian Allah memerintahkan Pena untuk menulis. “Apa yang harus saya tulis, Ya Allah?” bertanya Pena. Kemudian Rabb al Alamin berkata, “Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan !” Berkata Pena, “Ya Allah, apa yang harus saya mulai?” Barkata Allah, “Kamu harus memulai dengan kata-kata ini : Bismillah al-Rahman al-Rahim.” Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Pena bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Kitab (lawh al-mahfoudh), dan dia menyelesaikan tulisan itu dalam 700 tahun.

Ketika Pena telah menulis kata-kata itu, Allah S.W.T. berbicara dan berkata, “Telah memakan 700 tahun untuk kamu menulis tiga Nama Ku; Nama Keagungan Ku, Kasih Sayang Ku dan Empati Ku. Tiga kata-kata yang penuh barakah ini saya buat sebagai sebuah hadiah bagi ummat Kekasih Ku Muhammad.

Dengan Keagungan Ku Aku berjanji bahwa bilamana abdi manapun dari ummat ini menyebutkan kata Bismillah dengan niat yang murni, Aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuk abdi tadi, dan 700 tahun dosa akan Aku hapuskan.”

Sekarang (selanjutnya), bagaian ke-empat dari Nur itu Aku bagi lagi menjadi empat bagian :

! Dari bagian pertama Aku ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-‘Arsh);

! Dari bagian kedua Aku telah ciptakan Kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga Singgasana Ilahiah, ‘Arsh);

! Dari bagian ketiga Aku ciptakan seluruh malaikat (makhluq) langit lainnya;

! dan bagian ke-empat Aku bagi lagi menjadi empat bagian:

! dari bagian pertama Aku membuat semua langit, dari bagian kedua Aku membuat bumi-bumi , dari bagian ketiga Aku membuat Jinn dan api.

! Bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian : dari bagian pertama Aku membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; dari bagian kedua Aku membuat cahaya di dalam jantung mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; dari bagian ketiga cahaya bagi lidah mereka yang adalah cahaya Tawhid (Hu Allahu Ahad),

! dan dari bagian keempat Aku membuat berbagai cahaya dari ruh Muhammad s.a.w..

Ruh yang cantik ini diciptakan 360,000 tahun sebelum penciptaan dunia ini,

! dan itu dibentuk sangat (paling) cantik dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan.

! Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati,

! Matanya dari kesederhanaan dasn kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah),

! Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan,

! Pipinya dari cinta dan ke-hati-hati-an,

! Perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan,

! Kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus,

! dan jantungnya yang mulia dipenuhi dengan rahman.

! Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalahnya dan kualitas kenabiannya dipasang.

! Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh barokah, masyhur dan tinggi diatas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah (Kekasih Allah) yang murni dan suci.

Sesudah ini Allah S.W.T., menciptakan duabelas tabir.

! Yang pertama dari itu adalah Tabir Kekuatan didalam mana Ruh Nabi s.a.w. mukim (tinggal) selama 12,000 tahun, membaca Subhana rabbil-’ala (Maha Suci Rabb-ku, Maha Tinggi).

! Yang kedua adalah Tabir Kebesaran dalam mana dia ditutupi selama 11,000 tahun, berkata, Subhanal ’Alim al-Hakim (Maha Suci Rabb-ku, Maha Tahu, Maha Bijak).

! Dia dipingit selama 10,000 tahun dalam Tabir Kebaikan, mengucapkan Subhana man huwa da’im, la yaqta (Maha Suci Rabb-ku Yang Abadi, Yang Tidak Berakhir).

! Tabir ke-empat adalah Tabir Rahman, disitu ruh mulia itu tinggal selama 9,000 tahun, memuja Allah, berkata: Subhana-rafi’-al-‘ala (Maha Suci Rabb ku Yang Ditinggikan, Maha Tinggi).

! Tabir kelima adalah Tabir Nikmat, dan di situ tinggal selama 8,000 tahun, mengagungkan Allah dan berkata, Subhana man huwa qa’imun la yanam. (Maha Suci Rabb-ku Yang Selalu Ada, Yang Tidak Tidur).

! Tabir ke-enam adalah Tabir Kemurahan; dimana dia tinggal selama 7,000 tahun, memuja, Subhana-man huwal-ghaniyu la yafqaru (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Kaya, Yang Tidak Pernah Menjadi Miskin).

! Kemudian diikuti tabir ke tujuh, Tabir Kedudukan. Disini ruh tercerahkan itu tinggal selama 6,000 tahun, memuja Allah dan berkata : Subhana man huwal Khaliq-an-Nur (Maha Suci Rabb-ku Maha Pencipta, Maha Cahaya Light).

! Berikutnya, Dia menyelimutinya dengan tabir ke delapan, Tabir Petunjuk dimana dia tinggal selama 5,000 tahun, memuja Allah dan berkata, Subhana man lam yazil wa la yazal. (Maha Suci

Rabb-ku Yang Keberadaan Nya Tak Pernah Berhenti, Yang Tidak Musnah).

! Kemudian diikuti tabir ke sembilan, yaitu Tabir Kenabian dimana dia tinggal selama 4,000 tahun, mengagungkan Allah: “Subhana man taqarrab bil-qudrati wal-baqa.” (Maha Suci Rabb-ku yang Mengajak Dekat dengan Maha Kuat dan Maha Langgeng).

! Kemudian datang Tabir Keunggulan, tabir ke sepuluh dimana ruh yang tercerahkan ini tinggal selama 3,000 tahun, membaca pepujian untuk Pencipta dari Semua Sebab, berkata, “Subhana dhil-’arshi ‘amma yasifun.” (Maha Suci Rabb-ku Pemilik Singgasana Diatas Semua Karakter Yang Dilekatkan Kepada Nya).

! Tabir ke-sebelas adalah Tabir Cahaya. Disana dia tinggal selama 2,000 tahun, berdoa, “Subhana dhil-Mulk wal-Malakut.” (Maha Suci Rabb-ku Maha Raja semua Kerajaan Langit dan Bumi).

! Tabir ke-dua belas adalah Tabir Intervensi (Syafa’at), dan disana dia tinggal selama 1,000 tahun, berkata “Subhana-rabbil-’azhim” (Maha Suci Rabb-ku, Maha Anggun).

Setelah itu Allah menciptakan sebuah pohon yang dikenal sebagai Pohon Kepastian.

! Pohon ini memiliki empat cabang. Dia menempatkan ruh yang diberkahi tadi pada salah satu cabang, dan dia terus menerus memuja Allah untuk 40,000 tahun, mengatakan, Allahu dhul-Jalali wal-Ikram. (Allah, Pemilik Keperkasaan dan Kebaikan).

! Setelah dia memuja Nya demikian itu dengan pepujian yang banyak dan beragam, Allah S.W.T. menciptakan sebuah cermin, dan Dia meletakannya demikian hingga menghadapi ruh Habibullah, dan memerintahkan ruh itu untuk memandangi cermin itu.

! Ruh itu melihat ke dalam cermin dan melihat dirinya terpantul sebagai pemilik bentuk yang paling cantik/ bagus dan sempurna.

! Dia kemudian membaca lima kali, Shukran lillahi ta’ala (terima kasih kepada Allah, Maha Tinggi Dia), dan tersungkur dalam posisi sujud dihadapan Rabb-nya. Dia tetap bersujud seperti itu selama 100 tahun, mengatakan Subhanal-aliyyul-azhim, wa la yajhalu. (Maha Suci Rabb ku Maha Tinggi Maha Anggun, Yang Tidak Mengabaikan Apapun); Subhanal-halim alladhi la yu’ajjalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Toleran, Yang Tidak Tergesa-gesa); Subhanal-jawad alladhi la yabkhalu. (Maha Suci Rabb ku Maha Pemurah Yang Tidak Pelit).

! Karena itulah Penyebab (Adanya) Makhluq mewajibkan ummat Muhammad s.a.w. untuk melakukan sujud (sajda) lima kali dalam sehari– lima shalat dalam jangka waktu siang sampai malam ini adalah sebuah hadiah kehormatan bagi ummat Muhammad s.a.w..

Berikutnya Allah menciptakan sebuah lampu jamrut hijau dari Cahaya,

! dan dilekatkan pada pohon itu melalui seuntai rantai cahaya.

! Kemudian Dia menempatkan ruh Muhammad s.a.w. di dalam lampu itu dan memerintahkannya untuk memuja Dia dengan Nama Paling Indah (Asma al-Husna).

! Itu dilakukannya, dan dia mulai membaca setiap satu dari Nama itu selama 1,000 tahun. Ketika dia sampai kepada Nama ar-Rahman (Maha Kasih), pandangan ar-Rahman jatuh kepadanya dan ruh itu mulai berkeringat karena kerendahan hatinya.

Tetesan keringat jatuh dari padanya, sebanyak yang jatuh itu menjadi nabi dan rasul, setiap tetes keringat beraroma mawar berubah menjadi ruh seorang nabi.

! Mereka semua berkumpul di sekitar lampu di pohon itu, dan Azza wa Jala berkata kepada Nabi Muhammad s.a.w., “Lihatlah ini sejumlah besar nabi yang Aku ciptakan dari tetesan keringatmu yang menyerupai mutiara.”

! Mematuhi perintah ini, dia memandangi mereka itu, dan ketika cahaya mata itu menyentuh menyinari objek itu, maka ruh para nabi itu sekonyong konyong tenggelam dalam Nur Muhammad s.a.w., dan mereka berteriak, “Ya Allah, siapa yang menyelimuti kami dengan cahaya?”

! Allah menjawab mereka, “Ini adalah Cahaya dari Muhammad Kekasih Ku, dan kalau kamu akan beriman kepadanya dan menegaskan risalah kenabiannya, Aku akan menghadiahkan kepada kamu kehormatan berupa kenabian.”

! Dengan itu semua ruh para nabi itu menyatakan iman mereka kepada kenabiannya, dan Allah berkata, “Aku menjadi saksi terhadap pengakuanmu ini,” dan mereka semua setuju. Sebagaimana disebutkan di dalam al Quran yang Suci:

Dan ketika Allah bersepakat dengan para nabi itu : Bahwa Aku telah memberi kamu Kitab dan Kebijakan; kemudian akan datang kepadamu seorang Rasul yang menegaskan kembali apa-apa yang telah apa padamu–kamu akan beriman kepadanya dan kamu akan membantunya; apa kamu setuju? Dia berkata. Dan apakah kamu menerima beban Ku kepadamu dengan syarat seperti itu. Mereka berkata, ‘Benar kami setuju.’ Allah berkata, ‘Bersaksilah demikian, dan Aku akan bersama kamu diantara para saksi.’

(Ali Imran, 3:75-76)

! Kemudian ruh yang murni dan suci itu kembali melanjutkan bacaan Asma ul Husna lagi.

! Ketika dia sampai kepada Nama al-Qahhar, kepalanya mulai berkeringat sekali lagi karena intensitas dari al Qahhar itu, dan dari butiran keringat itu Allah menciptakan ruh para malaikat yang diberkati.

! Dari keringat pada mukanya, Allah menciptakan Singgasana dan Hadhirat Ilahiah,

! Kitab Induk dan Pena, matahari, rembulan dan bintang -bintang.

! Dari keringat di dadanya Dia menciptakan para ulama, para syuhada dan para mutaqin.

! Dari keringat pada punggungnya dibuat lah Bayt-al-Ma’mur (rumah surgawi),

! Kabatullah (Kaba), dan Bayt-al-Muqaddas (Haram Jerusalem),

! dan Rauda-i-Mutahhara (kuburan Nabi Suci s.a.w.di Madinah), begitu juga semua mesjid di dunia ini.

Dari keringat pada alisnya dibuat semua ruh kaum beriman, dan dari keringat punggung bagian bawahnya (the coccyx) dibuatlah semua ruh kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung.

Dari keringat di kaki nya dibuatlah semua tanah dari timur ke barat, dan semua apa-apa yang berada didalamnya. Dari setiap tetes keringatlah ruh seorang beriman atau tak-beriman dibuatnya. Itulah sebabnya Nabi Suci s.a.w.disebut juga sebagai “Abu Arwah”, Ayah para Ruh. Semua ruh ini berkumpul mengelilingi ruh Muhammad s.a.w., berputar mengelilinginya dengan pepujian dan pengagungannya selama 1,000 tahun; kemudian Allah memerintahkan para ruh itu untuk memandang ruh Muhammad s.a.w..Para ruh mematuhi.

Siapa Memandang kepada Ruh Muhammad s.a.w.

Nah, di antara mereka yang pandangannya jatuh kepada kepalanya ditakdirkan menjadi raja dan kepala negara di dunia ini. Mereka yang memandang kepada dahinya menjadi pemimpin yang adil. Mereka yang memandang matanya akan menjadi hafiz Kalimat Allah (yaitu seorang yang memegangnya kedalam ingatannya). Mereka yang memandang alisnya akan menjadi pelukis dan artist. Mereka yang memandang telinganya akan menjadi mereka yang menerima peringatan dan nasehat. Mereka yang melihat pipinya yang penuh barakah menjadi pelaksana karya yang bagus dan pantas. Mereka yang melihat mukanya menjadi hakim dan pembuat wewangian, dan mereka yang melihat bibirnya yang penuh barokah menjadi menteri.

Barang siapa melihat mulutnya akan menjadi mereka yang banyak berpuasa. Barangsiapa yang melihat giginya akan menjadi kelihatan

bagus/cantik, dan siapa yang melihat lidahnya akan menjadi utusan /duta raja-raja. Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh barokah akan menjadi khatib dan mu’adhdhin (yang mengumandangkan adhan). Barang siapa memandang janggutnya akan menjadi pejuang di jalan Allah. Barang siapa memandang lengan atasnya akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi kapal laut, dan barang siapa melihat lehernya akan menjadi usahawan dan pedagang.

Siapa yang melihat tangan kananya akan menjadi seorang pemimpin, dan siapa yang melihat tangan kirinya akan menjadi seorang pembagi (yang menguasai timbangan dan mengukur catu kebutuhan hidup). Siapa yang melihat telapak tangannya menjadi seorang yang gemar memberi; siapa yang melihat belakang tangannya akan menjadi kolektor. Siapa yang melihat bagian dalam dari tangan kanannya menjadi seorang pelukis; siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya akan menjadi seorang calligrapher, dan siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya akan menjadi seorang pandai besi.

Siapa yang melihat dadanya yang penuh baraokah akan menjadi seorang terpelajar, meninggalkan keduniaan (ascetic) dan berilmu. Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh pada hukum Shari’a. Siapa yang melihat sisi badanya yang penuh barokah akan menjadi seorang pejuang. Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas, dan siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi mereka yang melaksanakan ruk’u dan sujud. Siapa yang melihat kakinya yang penuh barokah akan menjadi seorang pemburu, dan siapa yang melihat telapak kakinya menjadi mereka yang suka bepergian. Siapa yang melihat bayangannya akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute). Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa akan menjadi kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung. Mereka yang tidak memandang sama sekali akan menjadi mereka akan menyatakan bahwa dirinya adalah tuhan, seperti Nimrod, Pharoah dan sejenisnya.

Kini semua ruh itu diatur dalam empat baris.

! Di baris pertama berdiri ruh para nabi dan rasul, a.s.;

! Di baris kedua ditempatkan ruh para orang suci, para sahabat Allah;

! Di baris ketiga berdiri ruh kaum beriman, laki dan perempuan;

! Di baris ke empat berdiri ruh kaum tak-beriman.

Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di hadhirat Allah S.W.T.sampai waktu mereka tiba untuk dikirim ke dunia fisik.

Tidak seorang pun tahu kecuali Allah S.W.T. yang tahu berapa selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh barokah Nabi Muhammad sampai diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu.

Diceritakan bahwa Nabi Suci Muhammad s.a.w. bertanya kepada malaikat Jibra'il ,

! “Berapa lama sejak engkau diciptakan?”

! Malaikat itu menjawab, “Ya h Rasulullah, saya tidak tahu jumlah tahunnya, yang saya tahu bahwa setiap 70,000 tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana Ilahiah; sejak waktu saya diciptakan cahaya ini muncul 12,000 kali.”

! “Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?” bertanya Muhammad s.a.w..

! “Tidak, saya tidak tahu,” berkata malaikat itu. “Itu adalah Nur ruhku dalam dunia ruh,” jawab Nabi Suci s.a.w.. Pertimbangkan kemudian, berapa besar jumlah itu, jika 70,000 dikalikan 12,000 !
 

Seterusnya [Next]:- Abu Bakr as Siddiq

Fasal pada menyatakan kejadian MAUT

Maka tatkala Maut berada di dalam Tangan Malaikat Izrail, berkatalah Maut  ya tuhan ku izinkan olehmu bagiku hingga aku menyeru didalam tujuh petala langit itu satu kali seru?. Maka meberi izin Allah Taala baginya maka lalumenyeru ia dengan terlebih kuat suaranya:-
Akulah Maut yang menceraikan antara tiap-tiap kekasih
Akulah Maut yang menceraikan antara suami dan isteri
Akulah Maut yang menceraikan anak perempuan dengan ibunya
Akulah Maut yang menceraikan antara saudara-saudara lelaki dan saudara-saudara perempuan
Akulah Maut yang mengerasi pada segala yang keras daripada anak adam
Akulah Maut yang memusnahkan segala rumah dan segala kampung.
Akulah Maut yang meramaikan segala kubur

Fasal pada menyatakan kejadian Malaikat & MAUT

Bermula bab pada menyatakan segala kejadian Malaikat Maut. Ketahui oleh mu bahawasanya Allah Taala menjadikan ia akan segala malaikat yang mulia yang empat iaitu Israfil Alaisalam dan Mikail Alaisalam dan Jibrail Alaisalam dan Izrail Alaisalam dan dijadikan dalam tangan mereka itu akan segala perkerjaan makhluk dan memmerintahkan segala alam sekeliannya.
Dan dijadikan Jibrail Alaisalam itu yang menyampai menurunkan wahyu kepada segala rasul
Dan Mikail Alaisalam itu menurunkan hujan dan segala rezeki
Dan Izrail Aialisalam itu mengambil nyawa daripada segala yang mempunyai ruh. Berkata Ibnu Abas Radiallahuanhuma bahawa Izrail  Alaisalam meminta akan dia Kuat tujuh petala  langit, kuat tujuh petala bumi, Kuat segala angin, kuat segala bukit, kuat segala jin, kuat segala manusia, kuat segala binatang yang buas,
 maka memberia akan Allah Taala akan dia, dan daripada bawah dua tapak kakinya hingga sampai kepada kepalanya itu beberapa bulunya dan segala mulutnya dan lidahnya yang menutupi dengan hijab mengucap tasbih akan Allah Taala dengan tiap-tiap lidah itu seribu langit-langit dan dijadikan Allah Taala dearipada seribu malaikat mengucap tasbih oleh mereka itu akan Allah Taala hingga hari qiamat.

Fasal menyatakan kejadian ADAM



Maka tetakala dikehendaki Allah Taala menjadikan lembaga Adam, maka dihimpunkan air, tanah, api dan hawa(haba) lalu Tajlli hak Taala kepada tanah itu dengan berbagai Tajlli Sifat dan Zatnya maka digengamnya segengam daripada bumi itu dengan gengaman Jabrautnya, maka dihantarkannya ia pada alam Malakut adalah tanah yang digengam itu pilihan daripada segala tanah, maka dengan haq Allah Taala tanah segengam itu dengan beberapa rempah-rempah, bau-bauan, daripada  Nur Sifatnya,  maka diturunkan Allah Taalah hujan atas tanah yang segengam itu. 
Dengan Sifat Jalal dan Jamal maka dijadikan lembaga  oleh hak Allah Taala  akan tanah yang satu gengam itu dengan berbagai-bagai nafas alam malik, dan alam malakut itu maka dihantarkan ia lembaga itu pada pihak Qudrat
 yang antara medan “azali” dan “abaad” hingga berlakulah atas segala sabit yang tersebut daripada  "israkulalzat" dan segala alam yang tersebut daripada  qamar al-sifat, tetapi  tiada menzahirkan dan tiada mashur namanya dan segala perinya pada segala malaikat dan segala jin seperti firman allah yang maksudnya”sesungguhnya telah datang atas adam sesuatu masa yang tidada ada ia sesuatu yang disebut akan dia yakni adalah berlalu atas  lembaga adam kira kira 120 tahun lamanya iaitu:-

Kejadian Tujuh Petala Langit dan Tujuh Petala Bumi- IV

Telah berkata Nabi s.a.w awal-awal yang dijadikan Allah Taala itu Cahaya-Ku, maka cahaya ku itupun sujud bagi Allah Taala, maka firmanNya hai Nur Muhammad daripadaku, sujudlah engkau selama 100,000 tahun maka cahayaku pun sujud selama 100,000 tahun lamanya. Kemudian maka firman Allah Taala, Hai Nur Muhammad bangkitlah engkau dengan firman ku, maka ia bangkitlah ia daripada sujudnya, maka firmannya lagi hai Nur Muhammad bagi ummat mu ku fardukan sembahayang lima waktu dengan dia.

Se-bermula kejadian cahaya ku itu maka dijadikan Allah Taala bagi seekor burung yang indah rupanya, daripada burung itu, bermula:-

Kepalanya Amirrul Mukminin Ali r.a.h,
Mata kirinya Amirull Mukminin Hassan r.a.h dan
Lehernya itu Siti Fatimah r.a.h dan
Lengan yang kanan itu Syaidina Abu Bakar r.a.h dan
Lengan yang kiri itu Syaidina Omar r.a.h dan
Ekor burung itu Amirrul Mukminin Osman r.a.h
Dada burung itu Syaidinna Hamzah r.a.h
Kanan burung itu Siti Khadijah r.a.h
Kiri burung itu Siti Aysiah r.ah
Kemudian firman Allah taala Hai Nur Kekasih ku, ku jadikan tujuh laut:-

Pertamanya laut Amalan
Kedua laut Latif
Ketiga laut Khaabar
Keempat laut Badi
Kelima laut Fakir
Keenam laut Cahaya
Ketujuh laut ……..

Fasal menyatakan kejadian sejuk, air beku dan embun

Fasal menyatakan kejadian sejuk, air beku dan embun

Adapun segala perkara itu dijadikan Allah Taala suatu bukit yang sejuk dan air beku tiada mengetahui besanya itu hanya Allah taala juga yang mengetahui dan mengawali seorang Malaikat, apabila dikehendaki Allah taala menurunkan sejuk kepada pihak bumi, maka Malaikat itu pun menurunkan dia dan jadilah embun dan hujan batu di sana dengan izin Allah dan tiada diturunkan setiti embuk itu melainkan disukat dan ditimbangnya.

Fasal menyatakan kejadina Kilat dan Halilitar dan Guruh.

Kata Ibnu Abbas bahawasanya datang sesorang bertanya kepada Rasulullah, katanya Ya Rasulullah ceritakan hamba kejadian kilat halilitar dan guruh, Maka jawab Rasulullah, Satu Malaikat yang megawali awan da pada tanganya beberapa cemati daripada api, maka dipalunya akan awan itu dengan cemati, itulah guruh dan kilat, maka sembahnya ya Rasulullah suara siapa yang berbunyi itu,
maka sabdanya iaitu suara seorang malaikat bernama Malik Ar road dan kata Syaidina ali k.a.h.w.h bahawasanya kilat itu palu Malaikat akan awan dengan beberapa cemati daripada besi dan guruh itu suara daripada tasbih Malaikat tetaka memarahi akan awan dan bertasbih apabila bersalahan awan itu dengan dia lalu bertempiklah ia dengan suara yang amat keras lalu di hamburlah daripadanya api maka jadilah kilat dan halilitar.

Fasal pada menyatakan kejadian Kursy, Syurga & Awan

Fasal pada menyatakan kejadian Kursy

Adapun Kursy itu dijadikan Allah Taala daripada Zamrud yang Hijau dan adalah baginya empat tiang, tiap satu tiang luasnya seperti tujuh petala bumi dan langit. Dan Malaikat yang menangung Kursy itu empat orang dan seorang itu berupa Adam dan itulah yang memohon rezeki kepada Allah bagi anak Adam. Dan yang berupa Rajawali itu memohon rezeki bagi sekelian angkas, dan yang berupa Harimau itu memohon rezeki bagi binatang yang buas dan yang terakhir berupa dengan rupa Lembu dan itulah Malaikat yang memohon rezeki bagi binatang yang jinak.


Fasal pada menyatakan kejadian Syurga

Kata setengah daripada ulamak bahawa Syurga itu pintunya daripada permata yang merah, kemudian Janatul Firdaus itu daripada emas yang merah, Janatul Makwa itu daripada Zamrud yang hijau, Janatul Adnan itu daripada Mutiara. Kata sesetengah ulamak bahawasanya Syurga itu lapan perkara iaitu:-

Fasal pada menyatakan Loh Mahfos, Kejadian Qalam & Arash

Fasal pada menyatakan Loh Mahfos

Adapun Loh Mahfos itu dijadikan Allah Taala daripada mutiara yang putih dan kedua tepinya daripada Yakut yang Merah dan kepalanya dari manikam yang langit dan bumi dan besarnya seperti antara merah dan panjangnya seperti antara Musyrik dan Maghrib, maka adalah tersurat didalamnya daripada segala nasib hamba Allah taala yang banyak dan berbahagialah bagi yang berbahagia dan celakalah bagi yang celaka daripada Azali ke badan. Syahdan bahawasanya Loh Mahfos itu hanya sebelah sahaja yang dapat dilihat oleh Izrail dan yang sebelah lagi tiada siapa yang mengetahui hanya Allah Taala jua yang mengetahui.

Fasal pada menyatakan kejadian Qalam.

Adapun Qalam itu dijadikan Allah Taala daripada Nur dan panjangnya seperti antara Langit dan Bumi, dan pada satu riwayat ada menyatakan bahawa panjang Qalam itu kira-kira 500 tahun perjalanan dan bulatnya demikian juga. Dan adalah baginya delapan puluh belahan dan keluar daripadanya dakwat selang-selang daripada belahnya itu sekelian. Maka Firman Allah Taala akan dia Hai Qalam surat olehmu dan demi didengar firman Allah Taala demikian itu maka ia gementarlah lalu ia mengucapkan tasbih baginya. Maka tetakala itulah ia terbelah daripada kerana sangat hebat ia mendengar firman Allah. Dan firman Allah lagi Hai Qalam surat oleh mu akan dia daripada barang yang dijadikan dan barang yang lagi aka dia hingga ke hari Kiamat. Maka Qalam menyurat seperti barang yang dilakukan Allah Taala daripada bahagia segala yang bahagianya dan celaka daripada segala yang celaka dan barang yang dikehendaki Allah Taala.

Fasal menyatakan kejadian Arash.

Kejadian Tujuh Petala Langit dan Tujuh Petala Bumi

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah yang Maha Mengahasi dan Maha Menyayangi.

Segala puji bagi allah taala yang tiada tuhan hanya ia jua pada azali dan tiada serta suatu jua pun dan dia tuhan yang abadi lagi sentiasa dan tiada jua pun kemudiannya dan dijadikan makhluk dan tiada hajat baginya, maka tetakala hendak menyatakan ketuhananNya, maka dijadikan nur kekasihnya dan daripada nur itulah dijadikan segala Ambia dan diringkan dengan martabatnya, da dipilih Ambia itu Nabi Allah Adam, menyatakan kekasihnya maka kerana itulah sujud sekelian Malaikat akan dia dan keluarlah ia dari syurga itu adalah didalamnya hikmat dan anugrahnya akan dia martabat yang tinggi, maka jadilah ia Khalifah di Bumi.

Maha suci Tuhan yang tinggi ketuhananya dan tiada sekutu baginya dan lagi akan di fanakan sekelian makhluk kemudian daripada dijadikan, maka dikembalikannya pula. Saksi aku bahawasaNya tiada tuhan hanya Allah yang Isa tiada sekutu baginya dan saksi aku bahawasaNya Nabi Muhammad itu hamba dan persuruhnya. Hai Tuhanku anugrahkan kiranya Rahmat atas Muhammad dan sejahterakan kiranya atas pengulu kami Muhammad yang mempunyai Uhlul Amri dan mempunyai syafaat dan rahmat dan salam atas taulannya yang baginya dengan menjagakan sehabis-habis kuasa pada menghasilkan bagi maksud iaitu keredoan Allah.

Kemudian daripada itu maka bahawasanya hamba fakir yang hina lagi daif yang harap kepada TuhanNya yang amat pengasih iaitu Al-Syekh Nurulzain bin Ali Juni ibni Muhammad Hamid Al Rohani di tempatnya Syafiee MazahabNya. Maka tetakala pada hijrah Nabi s.a.w 1040 tahun pada 6 haribulan rejab pada hari Ahad dan kemudian daripada itu pada 20 Syawal, di titahkan raja yang mulia pada fakir dengan titah tidak dapat tidak menjujungnya iaitu Sultan Iskandar sani Aliluddin, bahawasanya menjadikan satu kitab dengan bahasa jawi menghimpunkan pada segala kejdain 7 petala langit dan 7 petala bumi.